Random Statistics #1

40% of male tourists visit the Philippines for sex.

Some spontaneous questions in mind were:

  1. Are Philippines girls that attractive?
  2. Are Philippines girls that cheap?
  3. Are Philippines girls that attractively cheap?
  4. Is it limited only to the girls?
  5. Is it a worthy strategy for tourism?

But then I browse the Internet to look for some evidence, or at least to know whose statistics it is. It turned out to be the US ambassador for the Philippines’ statement which does not have sufficient back up to support. He then had expressed his remorse and apology for making such strong statement.

Read the news here

Nonetheless, I am pretty sure that male tourists come to Indonesia mostly for its pretty beaches (beach walking, snorkeling, sun-bathing), its rich seas (diving, surfing), its delicious food (hot spicy sauces and fresh seafood), its tremendous volcanoes (we are in the ring of fire, aren’t we?), and its exotic culture (the dancing, rituals, crafts). It is definitely not for sex (or at least not at 40% rate, hehehe…)

Advertisements

Kematian dalam Statistik

Death of a person is tragedy. Death of many is statistics.

Ada dua kepastian dalam hidup: ketidakpastian dan kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS 29:57). Kematian menjadi satu mekanisme yang disediakan Tuhan untuk menjaga keseimbangan Bumi: makhluk hidup datang dan pergi.

Kalau dipikir-pikir, kematian adalah bentuk perpisahan paling berat sebab nggak ada jalan kembali buat yang sudah terlepas jiwa dari tubuhnya. Syok, tidak percaya, marah, berkabung, dan mungkin trauma adalah emosi yang normal dirasakan atas kematian. Kadang nggak mudah merelakan kepergian orang-orang yang kita cintai untuk selamanya. Kadang Tuhan menjadi sosok paling dibenci karena merenggut sebuag nyawa yang dulu Ia ciptakan.

Death Statistics

Kematian seseorang adalah tragedi. Tapi lucunya”, kematian bisa menjadi hal kasual ketika ia nggak lebih dari sekadar statistik sebagai bahan perbincangan.

Peristiwa paling membekas dalam ingatan ketika statistik kematian menjadi headline di mana-mana adalah:

1. September 11 attack tahun 2001 yang menewaskan sekitar 3,000 orang
2. Bom Bali tahun 2002 yang menewaskan sekitar 202 orang, dan
3. Bencana tsunami Aceh yang menewaskan sekitar 230 ribu orang.

Ya, di balik bencana, orang selalu punya pertanyaan tentang berapa banyak sebuah malapetaka menyebabkan korban jiwa. Semakin banyak, semakin dibicarakan. Gempa di sana, berapa yang meninggal? Gempa di sini, berapa yang meninggal? Kerusuhan di situ, berapa yang tertembak mati? Kecelakan pesawat atau kapal laut, berapa yang hilang dan pulang hanya nama? Kadang kita lupa bahwa setiap jiwa yang terlepas dari tubuhnya itu meninggalkan kisah sedih dan berarti. Bukan hanya angka.

 

Since the beginning of the year, more than 236,000 people have been killed by disasters and nearly 256 million have been affected by earthquakes, floods, tropical storms and landslides according to the latest figure by the Centre for Research in the Epidemiology of Disasters.

Selain bencana alam, kecelakaan juga menjadi penyebab kematian massal yang “hangat” diperbincangkan, terutma kecelakaan pesawat terbang — yang meski kemungkinan terjadinya paling kecil dibanding alat transportasi lainnya, risiko yang ditimbulkan paling besar. Kecelakaan paling fatal yang pernah terjadi adalah peristiwa rubuhnya gedung WTC di New York akibat pesawat Boeing yang dibajak dan menabrak gedung kembar tersebut. Info lebih banyak klik di sini.

Fiuh… anyway, saya nggak sedang ingin mengkritik apalagi menyarankan sesuatu. Ini cuma pengamatan pada bagaimana kita yang masih hidup memperlakukan kematian.