Somewhere Beyond the Sea (Part 3)

I like the most the back roll entry in scuba diving. It’s generally because I don’t have to bear the 15-something-kilos burden of the air tank and BCD and octopus and extra weights on me too long. I’d just sit by the edge of the boat and let may body roll backwards. Nice.

img_7042

Everything you need under water. Plus a good wet suit. Plus courage and determination.

Speaking of heavy burden, giant stride is obviously the method I’m most nervous doing. I’m not a big fan of jumping into water. And even though we are not supposed to jump, the idea of stepping forward into the water (with that burden) from about a meter high is not really my thing. Therefore, the other “lighter” method of wearing the equipment on the water surface, is also not really my favorite as I still need to jump into the water for it.

In life, however, I jump a lot (including jumping into conclusion ha ha). I often make giant steps too. I call myself courageous, but in some cases it’s merely being frivolous. Isn’t it fascinating to just do, to just close our eyes and jump?

I think I’m turning crazy about this diving thingy. But this how love feels like, doesn’t it? It’s an amazing feeling, really. Knowing how I fear of the limitless sea, the unknown darkness, the dependence on equipment wrapped in my body, the doubt if my body could handle the pressure (both physically and mentally) under water… Yet just like any other love, it’s simply beautiful to be in it. It’s beyond words.

I’m in love.

Pengguna Jalan Paling Ngawur di Jakarta

Menyeberang jalan sembaranganBerdasarkan hasil observasi dan pengalaman pribadi, berikut adalah lima pengguna jalan paling ngawur di Jakarta yang sering menambah kuruwetan kota:

  1. Sepeda motor. Pengendara sepeda motor adalah juaranya ngawur, mungkin karena ukurannya yang kecil sehingga bisa bergerak gesit. Mereka sering nyelonong seenaknya, menyusup sekenanya, melawan arus, memanfaatkan trotoar, hingga merusak pembatas jalan.
  2. Bajaj. Sopir bajaj adalah runner-up dalam berkendara ngawur di jalanan Ibukota. Mentang-mentang rodanya cuma tiga dan bisa bermanuver dengan cepat, bajaj gemar banget meliak-liuk di antara mobil dan sepeda motor, memperebutkan jalan.
  3. Kopaja/metromini. Naik kopaja atau metromini, apalagi kalau duduk di bangku paling depan, serasa naik roller-coaster. Sopirnya selalu terburu-buru (ngejar setoran katanya) dan berhenti seenaknya ketika menaikkan dan menurunkan penumpang. Meski menakutkan, penumpang masih doyan menggunakan moda transportasi yang murah ini.
  4. Angkot/mikrolet. Sopir angkot menduduki peringkat keempat dalam “kompetisi” pengguna jalan paling ngawur Jakarta. Suka menyerobot, rebutan penumpang, menerobos lampu merah, berhenti seenaknya, ngetem sesukanya, buang sampah sembarangan, dan… banyak banget sopirnya yang masih belia (saya yakin mereka nggak punya SIM).
  5. Pejalan kaki. Yang terakhir ini, meski sering dilanggar haknya, ternyata juga doyan ngawur di jalan terutama menyeberang jalan di mana saja. Beberapa kasus dapat dimaafkan, tapi kadang bikin gemes kalau ada yang asal nyelonong padahal tidak jauh dari situ ada zebra cross atau jembatan penyeberangan.

Sopir angkutan umum memang mendominasi daftar di atas. Namun juara 1 dan 5 adalah masyarakat biasa yang bisa berasal dari berbagai kalangan. Saya berandai-andai mengenai sebuah kesimpulan menyangkut perilaku pengguna jalan yang bisa ditarik dari observasi sederhana ini. Peneliti mungkin dapat menguji hipotesis bahwa perilaku ngawur di jalan bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain: tingkat pendidikan, tingkat pendapatan/kesejahteraan, kebiasaan lingkungan sekitar, serta kondisi psikologi/emosi pengguna jalan.

Jadi, setidaknya kalau kamu merasa berpendidikan dan sejahtera, sudah sewajarnya bersikap lebih anggun di jalan ya :).

Should A Blog be Controversial?

BlogShould a blog be controversial? In my opinion, the answer is a straight NO; a blog doesn’t have to be controversial. It is much more important that a blog is informative, entertaining and/or inspirational.

See it this way: in the middle of bad-news-attack from various media, people actually are starving for good news. But the mindset of ‘good news is no news’ is so strong and so mainstream that the media feel bounded to deliver more of the bads than the goods.

I am happy to know that just recently the government of Jakarta pursues to engage bloggers in promoting tourism, bearing in mind that these bloggers spread (good) information based on honesty and subjectivity. People love to hear other people’s thoughts and opinions more than advertisements that sometimes are misleading.

I wrote this inspired by a triggering opinion that a blog should be controversial. I then try to reflect this to myself: do I read controversial blog? Perhaps sometimes. I never necessarily look for it, but it’s interesting to read some controversial topics every now and then. I reflect this also to my blog: do I like writing something controversial? Rarely, I simply always keep my writing honest and fresh. It’s a matter of putting the ideas out there. Putting it on the sphere of “google-search”, to make it global.

Being controversial is not the only way to get attention.

 

Wajah Sedih Jakarta

Saya tidak menemukan judul yang tepat. Tapi biarlah saya menyebutnya: Unhappy Jakarta. Jakarta seems not happy. And I am not happy.

Jakarta terus-terusan menguji kesabaran saya. Sejak pertama menginjakkan kaki di sini lagi, saya mesti berusaha beradaptasi, sekali lagi. Kali ini tidak lebih mudah dibanding kedatangan pertama saya dulu. Dulu saya excited, tertantang dan begitu bersemangat dengan harapan yang (tampaknya) indah. Kali ini saya merasa hopeless, tidak tahu apa yang saya mau, tidak tahu apa yang akan bisa saya kerjakan di sini selain menyelesaikan beberapa urusan yang tertunda sembari memakan sedikit demi sedikit tabungan.

Harga-harga naik. Ya, tentu saja. Mestinya yang semacam ini tidak perlu sampai mengejutkan saya. Tapi nyatanya… ya ya… saya terkejut. Belanja di Carrefour, di Matahari, melihat-lihat barang di Metro, Seibu, Sogo, dan toko-toko di Grand Indonesia… yep saya agak panik melihat perubahan harga-harga dan mesti menerima kenyataan begitu cepatnya saldo tabungan saya berkurang.

Saya berusaha menghindari naik taksi sekarang, mencoba memanfaatkan angkutan umum semacam kopaja, bajaj, angkot, dan TransJakarta untuk bermobilisasi. Tidak sesulit yang dibayangkan meski tidak terlalu menyenangkan sebab matahari kadang terik, hawa selalu gerah, dan polusi terhirup paru-paru tanpa ampun.

Air PAM tiba-tiba memutuskan berhenti mengalir. Oh dear God! Ini saya sedang berada di tengah kota Jakarta yang konon kabarnya disebut metropolitan. What a shame!

Dan saya melihat banyak sekali wajah tidak bahagia di sekitar saya. Mungkin orang-orang ini nampak susah karena tuntuan hidup yang tinggi. Mungkin karena ujian hidup yang berat. Mungkin karena meski (katanya) Jakarta menjanjikan masa depan yang cerah dan gemilang, ternyata jalan yang harus ditempuh seringkali menyakitkan. Saya tidak suka melihat wajah tidak bahagia. Lebih-lebih ketika saya bercermin dan mendapati ternyata wajah yang terpantul di sana pun tidak kelihatan bahagia. Atau mungkin… karena saya sekarang bergaul dengan orang-orang yang naik angkutan umum, saya jadi lebih banyak melihat wajah sedih. Money does have something to do with happiness, eh?

Tapi yang paling melelahkan berada di sini lagi adalah begitu banyaknya potret kemiskinan. Kemanapun kaki melangkah, kemiskinan nggak pernah absen menyambangi pandangan mata. Orang-orang dengan gerobak terasa makin banyak saja populasinya. Kadang gerobak itu ditarik, kadang didorong. Kadang berisi kardus, kadang berisi keluarga mereka; anak-anak dan mungkin istri. Hidup macam apa itu?! Orang-orang berbaring di pinggir jalan—mungkin nggak punya rumah—juga terlihat di mana-mana. Belum lagi para pengemis (yang seringnya berupa ibu lusuh dengan bayi di gendongan), pengamen, pedagang kaki lima yang tak laku dagangannya…

Sesak! Saya bilang menyesakkan karena belum ada hal konkret yang bisa saya lakukan. Memberi mereka selembar uang tidak akan menyelesaikan masalah, saya tahu itu. Uang itu hanya serupa air seteguk yang tidak menuntaskan rasa haus, sebab si penerima uang terus-terusan meminta air. Saya jadi kesal pada Pemerintah. Bukan perasaan yang bagus karena dua alasan: 1) itu tidak berguna sebab tidak juga menyelesaikan masalah, dan 2) saya tidak berbeda dengan kebanyakan orang lain yang bisanya menyalahkan Pemerintah atas ketidaksejahteraan ibukota ini.

Tapi saya juga tidak bisa menahan untuk tidak bertanya: seserius apa Pemerintah mengatasi masalah kemiskinan ini? Apakah mustahil kota raya ini terlepas dari kemiskinan? Apakah ini salah satu kutukan negara ketiga? Apakah mental warganya sendiri yang menyebabkan kemiskinan enggan beranjak pergi? Apakah masih ada yang bisa dilakukan? Sampai kapan? Kapan akan tiba saatnya saya lebih banyak melihat wajah-wajah gembira daripada wajah lelah dan kusam dan sedih dan nelangsa menghiasi jalanan?

Okay, mungkin ini cuma satu sisi buruk wajah Jakarta. Kota ini memiliki sisi lain yang indah dan gemerlap. Saya mencoba menuliskan sisi yang itu tapi saya terbentur satu kenyataan: kepalsuan.

———-

Saya menulis ini ketika baru kembali dari studi di Belanda sekitar tiga tahun lalu. Saya pikir isinya menarik untuk dibaca. Sekalian mengenang kegelisahan masa lalu yang sekarang berganti kegelisahan baru plus kegelisahan lama yang ternyata masih ada. Sekarang saya masih suka naik angkutan umum, namun tidak lagi bermusuhan dengan taksi 😀

Indonesia: the paradise for expats

I intentionally write the title and sub-titles in English to attract the flies 🙂 lalu menuliskannya dalam bahasa Indonesia supaya bisa rasan-rasan dengan leluasa (huahahaha…).

Cerita ini bermula dari rasa mulas ketika tahu perusahaan tempat saya mengais ilmu dan uang akan mempekerjakan seorang konsultan berkebangsaan asing dengan upah per hari sama dengan (bahkan sedikit lebih tinggi dari) upah saya membanting tulang (dan gelas-gelas) dalam sebulan. Saya ketawa ngikik saat membantu menulis terms of reference si konsultan sambil misuh-misuh dalam hati lalu menangis bombay di kamar malam-malam mengutuki nasib.

Dengan rasa gundah dalam dada, saya langsung berselancar di dunia maya, mencari, mengais, mengorek, mengumpulkan, dan menyelidiki segala macam informasi mengenai bayaran para expat yang konon sangat pintar dan sangat berpengalaman itu. Saya menemukan beberapa referensi. Namun sebagai pelengkap tulisan ini, saya memilih menyertakan lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pajak yang terbit sepuluh tahun lalu: KEP-173_2002 Standar Gaji Expat.

The astronomical figures…

Dalam peraturan yang keluar tahun 2002 tersebut, dilampirkanlah standar gaji expat berdasarkan bidang usaha, level, serta asal negara. Tampak bahwa orang USA ($3000 – 18000), UK ($5000 – $17000), Jerman ($4000 – 16000), dan Belanda ($5000 – $18000) adalah empat kewarganegaraan expat dengan standar paling tinggi dibandingkan lainnya, disusul Jepang, Australia, dan negara Eropa lainnya. Yang menarik lagi, tetangga dari India dan Filipina ternyata standar gajinya lebih tinggi daripada gaji kita-kita sang pribumi.

Silakan klik dan intip file itu sendiri yaa… sebab saya masih terlalu mulas untuk merangkumnya di sini :). Beranjak dari angka-angka yang fantastis itu, ada hal-hal lain yang kali ini bikin perut melilit. Para expat yang terhormat (karena tidak berdarah Indonesia) itu dianugerahi banyak fasilitas dan privilege yang oh-bikin-saya-ketawa panjang-tapi-ngenes. Sebut saja tunjangan tempat tinggal, tunjangan kesehatan, tunjangan sekolah anak-anaknya di sekolah internasional yang notabene mahal, jatah cuti yang lebih banyak dari para pribumi, plus tiket pulang kampung minimal setahun sekali.

The newly rich man alias orang kaya baru…

Tidak jarang para pendatang asing itu menjelma menjadi orang kaya baru begitu datang ke Indonesia. Dengan gaji tinggi plus biaya hidup yang banyak ditunjang, mereka menikmati hidup di sini yang biayanya lebih murah dibanding kebanyakan negara tempat asal mereka. Makan murah, transportasi murah, dan tentu saja rokok murah.

Berbagai keunggulan ekonomi itu masih dikomplemen dengan perlakuan sosial yang manis — berupa kemudahan dan keramahan yang diobral bagi orang asing terutama yang bule. Dengan masih mulas saya mesti mengelus dada menyaksikan bagaimana perempuan-perempuan Jakarta mengejar para bule ini kesana kemari. Padahal kadang si bulenya itu gendut, tua, botak pula hehehe… (ini ceritanya menertawakan diri sendiri). Lebih ancur lagi… kadang si bule udah ada yang punya.

Sudah bukan rahasia lagi kalau perempuan Jakarta “ditakuti” para istri expat karena sering membuat suami mereka tergoda. Ya gimana nggak tergiur… lha wong perempuan-perempuan itu udah cantik, seksi, eksotis, berpendidikan, “ramah” pula (bisa diraba dan dijamah, hahaha… uhuk uhuk!). Kata orang-orang tua sih nggak ada kucing yang menolak dikasih ikan ;-).

Eh tapi ada sedikit pengecualian untuk orang India dan Afrika. Saya mesti berempati dengan dua ras tersebut karena saya menyaksikan tidak mudah bagi mereka mencari rezeki di Indonesia (dalam hal ini sample saya hanya Jakarta). Sebab keduanya mendapat perlakuan berbeda dibanding bule-bule expat. Selain gaji yang lebih rendah, mereka ternyata mesti bersabar karena sopir taksi yang sering menomortigakan mereka. Sopir-sopir seringkali menolak mengantar orang India dan Afrika dengan alasan: mereka pelit dan nggak pernah ngasih tip. Hehehe… nasib ya nasib…

In their defense…

Kalau kamu sudah mengintip daftar standar gaji itu, akan terlihat bahwa mereka yang bekerja bagi Pemerintah dengan dana bantuan luar negeri adalah penghuni tertinggi paradise Indonesia. Kisarannya adalah $13000 hingga $38000 per bulan. Bagi mereka, uang yang cukup buat bayar DP rumah bagus di Jakarta itu dianggap layak sebab toh itu uang mereka sendiri (bukan uangnya pembayar pajak Indonesia). Jadi suka-suka mereka dong kalau gajinya gede (sial! betul juga ya!).

Saya juga pernah nge-date dengan seorang perekrut asal USA. Saya menyampaikan unek-unek soal ketidakadilan yang saya rasakan sebagai pribumi. Eh, dia malah bilang kalau para tenaga asing itu sudah sepantasnya digaji gede sebab mereka memang qualified dan expertise-nya tidak dimiliki pribumi. Plus mereka tinggal jauh dari kampung halaman. Berbagai tunjangan yang mereka terima adalah pelipur lara kehidupan yang nyaman di negeri asal mereka. Saya manggut-manggut saja (karena nggak ada gunanya membantah), biarpun di setiap anggukan saya menjerit “bullshit” dalam hati.

Penjajahan itu belum usai…

Wah, saya jadi ngelantur yaa… yuk mari kembali ke jalan yang benar. Tujuan saya menulis cuap-cuap ini adalah untuk membuka mata kita wahai orang Indonesia untuk nggak menyerah dan nggak berhenti mengembangkan diri. Kita mungkin sudah dikutuk menjadi orang Indonesia yang posisi tawarnya sangat rendah di dunia internasional. Penjajahan belum juga usai. Kita yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa ini masih harus bertarung dengan manusia-manusia unggulan dari mancanegara di kandang kita sendiri.

Tapi hidup harus terus berjalan. Queen bilang: show must go on. Ada banyak hal berada di luar kendali kita, salah satunya ya soal gaji expat yang seakan berada di dimensi lain upah pribumi. Kita nggak bisa marah pada siapa-siapa dan memang tidak perlu marah pada siapa-siapa. Kita juga jangan lantas mengusir mereka dari bumi Indonesia lho… apalagi pakai bambu runcing… soalnya ini bukan zaman perebutan  kemerdekaan kayak dulu.

Let’s see it this way: they are just human looking for a good life. It’s just happened that the good life is in your beloved Indonesia. What about us? the natives? Well, we continue our fight, our pursuit of a good life. Even if have to run side by side with those expensive experts.

7 Attitudes to Survive in Jakarta

Let’s face it. Living in Jakarta is getting more and more ridiculously challenging (“challenging” is a word the optimists use which is actually synonymous to: hard, difficult, complicated, and tricky :D).

It will be a boring repetition, but I have to mention again why Jakarta is so (damn) not easy. The air is heavily polluted, the traffic is frustratingly congested, the rivers and canals sickeningly stink, and the living cost is relatively high. Above all, we still have to face various people who many of them are cynical, opportunist, individualistic, hypocritical, and depressed

 Having lived here for a few years gives me the idea to share some of my observations, conclusions, and (perhaps) tips to survive in this “lovely” city.

First, patience. You need it a LOT. You have to be patient. Most of the frustration you face in Jakarta is out of your control and there is nothing you can do but to be patient. Trust me in this. If you try too hard to make things under control (people are naturally control freaks), you will find yourself beaten up because you are helpless. If Fauzi Bowo can’t fix all those problems faced by the Jakartan, most likely, neither can you. So, why don’t you stop complaining and start establishing some smart tricks to get along well with the city?

Second, patience. Yes, after supplying so much patience to get along with everything, you still need to spare another form of patience in order to rejuvenate your spirit and energy. This second layer of patience will keep you willing to continue living the unhealthy metropolitan life.

Third, indifference. You don’t have to care about everything around you, including people’s opinion regarding you and what you’re doing. And since I am purely admirer of Paulo Coelho, I will happily quote his words: “what other people think about you is none of your business.”

Fourth, ignorance. Ignorance is bliss, you know. Although for the whole life you have been preached to always dig all knowledge in the world, sometimes being ignorant is harmless. What you don’t know will not hurt you.

Fifth, arrogance (or probably I should call it: confidence). Trust in yourself and believe that you’re a meaningful creature having some important missions to do. You are significant and you play an important role. Otherwise, you will feel miserable and useless and you will want to die.

Sixth, optimism. Nothing is eternal in this world, so is in Jakarta, so is the depression. Live your day lightly and calmly. Don’t take too hard on too many things. When you are drowned in so much trouble then take a deep breath and have your golden slumber. You deserve it. Afterwards, you may start planning some strategy to face all challenges. Everything will flow.

Seventh, respect. Other people are frustrated too. They also have to deal with their nagging wives, lazy husbands, naughty kids, stupid partners, annoying colleagues, never-ending tasks, corrupt government officers, or fraudulent real estate agent (hehehe). So, try to understand when sometimes they act unrealistically. We are all human anyway.

🙂

Jakarta oh Jakarta (2): Terrific Traffic

Saya mendukung upaya apapun yang dilakukan Pemda DKI (ataupun Pemerintah Pusat) untuk mengurangi keramaian jalanan Ibukota. Mulai dari pembangunan sistem busway, skema three in one, car free day, rencana pembangunan MRT, implementasi ERP, pembatasan subsidi BBM, hingga wacana pengaturan mobil ganjil-genap khusus di Jakarta.

Busway: at least we try 😀

Busway, atau TransJakarta, yang banyak menuai protes pada awal pembangunannya dulu bisa dibilang cukup sukses. Tapi tentu saja saya perlu mengelaborasi sukses di sini. Sebab meski kemacetan Jakarta tidak berkurang (bahkan bertambah di titik-titik tertentu), saya menilai busway berhasil menyediakan moda transportasi yang relatif nyaman dan murah. Jarak tempuh jauh, waktu tempuh cepat, dan pemberhentian yang rapi adalah keunggulan busway di samping murahnya tarif dan armadanya yang bisa dibilang kelas tinggi dibanding kopaja atau bus kota lainnya. Waktu tunggu yang lama sebagai akibat sedikitnya jumlah armada menjadi pe-er buat pengelola untuk memperbaiki di masa mendatang (near future, hoepfully).

Three in one dan car free day sudah jelas terbukti mengurangi jumlah kendaraan secara drastis di jalan-jalan utama yang secara signifikan juga mengurangi emisi GHG (oh! saya nggak tahan untuk nggak menyebutkan ini! :D). MRT (Mass Rapid Transit) yang akan dibangun tahun 2012 dan dijadwalkan akan selesai tahun 2016 dinantikan banyak orang kehadirannya. Banyak yang menyangsikan pembangunan MRT ini. Saya termasuk yang optimis proyek ini akan terlaksana, meski saya pesimis moda yang satu ini akan secara signifikan mengurangi kemacetan.

ERP (Electronic Road Pricing) sudah dibicarakan sejak dua tahun silam dan sampai sekarang masih belum bisa diimplementasikan oleh Pemda DKI karena payung hukum dari Pemerintah Pusat yang “membolehkan” sistem tersebut berlaku di Jakarta masih dalam pembahasan. Bicara soal ERP yang ceritanya menduplikat praktek sukses di Singapura ini, sudah bisa diprediksi akan memancing banyak keberatan dari pengguna jalan baik itu kendaraan roda dua maupun roda empat. Tarif yang dipatok berkisar Rp. 5.000 sampai 20.000 ini dirasa sangat memberatkan banyak pihak khususnya pengusaha kurir.

Pemerintah harus berani dan tegas dan cepat.

Saya lihat Pemerintah kita ini mikirnya kelamaan. Entah mikir beneran atau sibuk berkolusi saya nggak tahu. Padahal mereka punya sumber daya manusia yang bisa dibilang berkualitas. Mereka juga selalu memperkerjakan para kontraktor bertarif tinggi yang pandai dan jago menghasilkan solusi cemerlang. Tapi dalam tahap eksekusi, selalu terlalu banyak rintangan (entah politik entah duit) yang membuat sebuah kebijakan nggak bisa diterapkan. Pemerintah seharusnya lebih berani dan tegas dan bertindak cepat. Memuaskan semua lapisan masyarakat adalah hal yang mustahil. We only have to choose wisely whom to let down. Wajah Jakarta yang ruwet perlu dirawat dengan lebih intensif dan ketat.

Lihat saja penghapusan atau pembatasan subsidi BBM. Gaungnya sudah kemana-mana tapi implementasi masih ragu-ragu. Padahal sudah tampak jelas di depan mata kalau BBM kita harganya terlalu murah. Melindungi kepentingan rakyat? Ah, itu retorika kosong. Bukan kepentingan rakyat yang dilindungi, tapi kepentingan sendiri untuk tetap dianggap bagus di mata rakyat. Harga BBM terlalu murah. Period. No brainer.

Kemudian ada wacana lagi mengenai pembatasan mobil genap-ganjil di mana kendaraan dengan nomor plat genap boleh menggunakan jalan di hari tertentu dan begitu pula dengan kendaraan dengan nomor plat ganjil. Saya cuma bisa berharap kajiannya segera dituntaskan, skemanya segera disusun, dan tentu saja kebijakannya segera diterapkan. Sekali lagi, Pemerintah harus berani dan tegas. Namanya juga Pemerintah, sudah menjadi tugasnya untuk memerintah. Yang nggak mau menurut ya dihukum, as simple as that.

The disgusting Jakarta traffic

Belajar dari negara-negara yang sudah lebih maju, mereka sangat keras dalam membuat dan menerapkan aturan-aturan yang berhubungan dengan jalan raya. Mulai dari proses mendapat SIM yang sangat panjang, susah, mahal, dan tidak bisa “dibeli,” harga BBBM yang bisa dua atau tiga kali lipat harga BBM kita, monitor kecepatan berkendara yang ketat, hingga denda yang selangit untuk urusan kesalahan parkir dan sebagainya. Semua sistem itu berfungsi. Orang takut melanggar karena takut membayar mahal. Uang memang alat kontrol yang efektif.

Keadaannya sungguh bertolak belakang dengan kondisi di negeri tercinta ini di mana SIM bisa dibeli (ya, saya dulu juga beli SIM), harga BBM lebih murah daripada teh botol, kredit sepeda motor yang sangat mudah diperoleh, tidak adanya aturan scrapping untuk kendaraan tua, hingga disiplin berkendara yang minim (akibat dari SIM yang hanya formalitas saja).

Mungkin kita akan sampai ke sana suatu hari ini. Ke sebuah tatanan masyarakat yang terorganisasi dengan baik dan taat aturan. Mungkin kita masih terlalu mudah untuk menjadi bangsa yang maju. Saya cuma berharap ini bukan kutukan bahwa bangsa Indonesia akan selamanya menjadi bangsa kelas dua.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin sekali lagi menuliskan bahwa Pemerintah perlu bertindak berani dan tegas. Itulah pesan utama saya.