Takut Jatuh Cinta

“Aku takut jatuh cinta.”

Seorang teman pernah mengatakannya pada saya di suatu waktu (bukan seorang saja sebenarnya, melainkan beberapa… hanya saja saya lupa berapa tepatnya). Mendengar pernyataan itu tentu bukan perkara mudah. Sebab di balik pengakuan itu, dia (atau mereka) menunggu sesuatu untuk saya ucapkan. Entah itu persetujuan (dengan menyebutkan berbagai bukti tidak enaknya jatuh cinta), atau penolakan (dengan membeberkan keindahan-keindahan cinta), atau sikap netral (dengan mengimbuhkan kata penyemangat dan penghiburan bahwa saatnya akan tiba di mana cinta akan kembali menyenangkan).

Biasanya… saya diam saja, memilih tidak mengatakan apapun. Tapi di kala lain saya bertanya “kenapa” yang tentu saja (bisa diduga) dijawab dengan cerita tragis masa lalu mereka saat terlibat percintaan. Pada dasarnya saya nggak ngerti pernyataan “takut jatuh cinta,” sebab kenyataannya mengalami cinta selalu menjadi rasa yang menyenangkan. Cinta adalah sesuatu yang positif dan memberi hati kita energi positif juga. Lalu apa sebenarnya yang menakutkan dari cinta? Tidak ada. Cinta selamanya akan membawa perasaan bahagia dan hangat di jiwa. Yang membuat orang enggan berurusan dengan cinta adalah perasaan-perasaan bawaan yang timbul dari mencintai (dan dicintai). Masih ingat dengan pepatah lama:

Love is like the measles, we all have to go through it (Jerome K. Jerome)

Mungkin gara-gara diidentikkan dengan campak itulah, orang menjadi takut mengalami cinta. Kenapa? Tentu saja karena ada pahit dan sakit yang yang mesti dirasakan sebagai konsekuensi mencinta. Perasaan ingin memiliki, cemburu, rindu, haus, posesif, marah, pengorbanan, tuntutan cinta yang berbalas, jantung yang lelah berdegup lebih kencang dari biasa, pipi yang memanas tanpa dapat dicegah, dan… kehilangan. Hal-hal itulah yang menggerogoti kesenangan yang dirasakan saat mengalami cinta. Kita takut, tidak ingin merasakan sakit yang mungkin (dan pasti akan) muncul sebagai efek samping yang nggak bisa dicegah. Sebab sekali kita terjun dalam dunia cinta, kita harus berhadapan dengan berbagai perasaan yang seringkali menghancurkan hati dan memaksa airmata keluar dari pelupuk mata kita. Tidak ada pilihan lain.

Pertanyaannya adalah: beranikah kita menghadapi itu?

Sebagian menjawab tidak. Sebab mereka lelah, mereka tidak punya cukup kekuatan lagi untuk tenggelam dan berjuang menghadapi sisi hitam cinta. Mereka sudah pernah merasakan sakit dan hancur. Mereka nggak bisa lagi mempertaruhkan kebahagiaan dengan kegelapan yang hebat, sementara pengalaman mengajarkan bahwa cinta nggak selalu berpihak pada mereka.

Sebagian yang lain menjawab ya, tidak ada yang perlu ditakutkan. Sebab mereka merasa, semua perasaan negatif itu layak dilewati demi mendapatkan hadiah yang tiada duanya: cinta. Orang-orang ini adalah pejuang-pejuang yang rela mencecap pahit yang membayangi keindahan cinta. Keputusan ada di tangan kita.

Dan akhirnya… teman-teman yang baik, dengan berbekal pengalaman percintaan saya yang secuil, dengan segala sensasi luar biasa yang pernah saya rasakan, segala tawa dan tangis saya, semua kupu-kupu yang pernah menari-nari di perut saya, juga racun dan bisa yang mengaliri nadi saya… saya katakan dengan rendah hati: jangan takut jatuh cinta. Cinta akan selalu menjadi sesuatu yang indah. Sesuatu yang bisa menciptakan senyum di bibir kita, yang membuat wajah kita bercahaya, yang memasok kita dengan kekuatan, yang memberi alasan kita untuk bertahan, yang mengajari hati kita menjadi manusia utuh. Sungguh, jangan takut jatuh cinta. Sebab hati kita memiliki kapasitas yang besar untuk mencintai. Dan sebab… ada orang-orang yang berhak merasakan cinta kita yang lembut sekaligus kuat ini.

—–

Ini adalah tulisan pertama saya di multiply lebih dari tiga tahun lalu. Click here for the original version.

 

Nonsense: Good Intention

Poor dog, isn't he?

What matters is the good intention. You must have heard that wisdom. That is NONSENSE. People don’t see the intention. People see only the act. No matter how good your intention is, people will only judge what you do. That is why many people are so busy kissing ass, wearing mask, pretending to do a noble deed, or even pretending to do evil. Intention is something subtle. We can’t really see it. Although, we can actually feel it.

Lately I have given out so much energy and emotion to the things I did: my job, friends, and people I care about. None of them is well appreciated.

Well, sometime in your life, you have tried to do your best and you believe that you do your best, it turns out: only you who understand the good in it. All the efforts, the energy, the thought, the money, the sweat, the tears, the time, and the good intention are in vain. Sometimes it is because people don’t think you do well enough. Some other times people think it is better if you do nothing.

I am not a great pretender. I am pretty far from that. So when it comes to people can’t see the good I did, it breaks my heart. Big time.

This is an emotional post, I know. So what? This is what I feel inside, this is what people see. Don’t  you care less on what my intention on writing this? No, of course you don’t care. All you care about is that this post is here. Out. Able to be read. Or, you don’t care at all. WTH! This is my room of honesty. This is where I can yell out loud and pour my heart out through my writing.

Intention. What a lonely word that is.