Rural Electrification

MHP schemeI remember I never really tell people what I’m doing, not to mention telling it out loud in a blog. No. I didn’t feel the urge to do that. But now, I really need to share it with you all. It is quite interesting.

I recently had my first experience visiting the site of micro hydro power (MHP) project in Gunung Halu, Bandung. Gunung Halu is one hamlet in Bandung Regency, West Java. It takes more than three hours to get there from Bandung (or about six hours from Jakarta, including the bad traffic and some stops to pee, hehe). The road is quite rocky and uneasy which makes me think how lucky I am to not having those rocky roads every single day. No signal reception there. And I can’t imagine how those people can survive without it :D.

The MHP in Gunung Halu is considered well maintained. It is 18 kW capacity and is able to electrify 65 households there. Only 20 households have television, DVD player, and/or rice cooker. The rest only use the electricity for lighting (in average 5 lamps per house). Each month, each household should pay between IDR 13,000 to 23,000 depending on their electrical appliances. It is relatively cheap, I guess.

There are six local people trained to operate and maintain the MHP, including to take care of the book keeping. For their service, these people are paid 35,000 Rupiah per month (crazy figure, huh?). Besides the MHP, the operators are also responsible in running coffee business which is not largely established yet. The coffee machines were granted by a UN project. Unfortunately, they sell coffee only when they are able to buy the seed and they sell it 15,000 Rupiah per 200 gr.

Although the MHP can be a good model for other MHPs across the archipelago, Gunung Halu MHP is not the best model since its distance from the national grid is not very far. The decision of installing this Gunung Halu MHP was a bit political (paying promise during election time — old story). Anyhow, having this MHP which could provide cheap electricity for the community is still something.

One common problem with an MHP is that the excess energy especially during the day when the lights should be off. I saw that even the day is so bright, almost all houses turn on their lights. This is not efficient, of course. Hence, we try to find a solution to utilize this energy for productive use. There are several options available such as: hatchery and coffee dryer. We are still trying to design an effective scheme for it. That is one of the purposes why I am hired :-).

The government project’s called Green PNPM aims to construct 80 to 100 new and sustainable MHPs per year. A lot of money (approx. 50 billion Rupiah) will be disbursed for that purpose. I really wish this huge amount of money will reach its target precisely.

Electricity in Villages

The power house (I will upload a better picture soon, promised! :-))

I remember I never really tell people what I’m doing, not to mention telling it out loud in a blog. No. I didn’t feel the urge to do that. But now, I really need to share it with you all. It is quite interesting.

I recently had my first experience visiting the site of micro hydro power (MHP) project in Gunung Halu, Bandung. Gunung Halu is one hamlet in Bandung Regency, West Java. It takes more than three hours to get there from Bandung (or about six hours from Jakarta, including the bad traffic and some stops to pee, hehe). The road is quite rocky and uneasy which makes me think how lucky I am to not having those rocky roads every single day. No signal reception there. And I can’t imagine how those people can survive without it :D.

The MHP in Gunung Halu is considered well maintained. It is 18 kW capacity and is able to electrify 65 households there. Only 20 households have television, DVD player, and/or rice cooker. The rest only use the electricity for lighting (in average 5 lamps per house). Each month, each household should pay between 13,000 to 23,000 Rupiah depending on their electricity equipments. It is relative cheap, I guess.

There are six local people trained to operate and maintain the MHP, including to take care of the book keeping. For their service, these people are paid 35,000 Rupiah per month (crazy figure, huh?). Besides the MHP, the operators are also responsible in running coffee business which is not largely established yet. The coffee machines were granted by a UN project. Unfortunately, they sell coffee only when they are able to buy the seed and they sell it 15,000 Rupiah per 200 gr.

Although the MHP can be a good model for other MHPs across the archipelago, Gunung Halu MHP is not the best model since its distance from the national grid is not very far. The decision of installing this Gunung Halu MHP was a bit political (paying promise during election time — old story). Anyhow, having this MHP which could provide cheap electricity for the community is still something.

One common problem with an MHP is that the excess energy especially during the day when the lights should be off. I saw that even the day is so bright, almost all houses turn on their lights. This is not efficient, of course. Hence, we try to find a solution to utilize this energy for productive use. There are several options available such as: hatchery and coffee dryer. We are still trying to design an effective scheme for it. That is one of the purposes why I am hired :-).

To give you some figure about hydro power potential in Indonesia, I can tell you a number published by the Ministry of Energy and Mineral Resources (2008) about potential and installed capacity of renewable energy options (MW).

RE source          Identified Potential     Installed capacity

Hydro                                        75,670                           4,200
Mini/micro hydro                        450                                 86
Geothermal                              27,000                           1,052
Biomass                                    49,810                               445
Solar                      4.8 kWh/m2/day                                  12
Wind                                           9,290                                0.6

The government project’s called Green PNPM aims to construct 80 to 100 new and sustainable MHPs per year. A lot of money (approx. 50 billion Rupiah) will be disbursed for that purpose. I really wish this huge amount of money will reach its target precisely.

—–

Mm… have I told you that the people of Gunung Halu are so friendly? Well, it’s not amazing as Indonesian people are generally friendly. Nevertheless, it feels so nice to see so many smiley faces :-).

PLTN: Siapkah Kita?

Jika harus menjawab dengan jawaban pendek antara ya dan tidak, saya akan menjawab: tidak. Saya mengerti betul akan ada (banyak) orang yang tidak setuju dengan pendapat saya, meski akan ada banyak juga yang akan setuju. Tapi sudah saatnya saya memijakkan kaki di salah satu blok dan tidak berdiri di tengah-tengah, bersikap netral, non-blok, atau kasarnya: tidak berpendirian :-).

Saya sudah lama memikirkan soal PLTN ini dan menimbang-nimbang di mana saya harus berpijak. PLTN sangat menggiurkan. Energi yang dibangkitkan sangat melimpah dengan bahan dasar sangat sedikit. Namun peristiwa di Fukushima, Jepang membuat saya jadi lebih mudah memutuskan kalau sebetulnya kita tidak siap. Yang saya maksud dengan “kita” adalah bangsa Indonesia. Puh, terkesan meremehkan sarjana-sarjana negeri yang pintar-pintar? Terkesan memandang rendah kemampuan sendiri? Bukan. Sebetulnya concern saya bukan di masalah kemampuan dan penguasaan teknologi, melainkan lebih ke behaviour. Kita ini bangsa yang careless, teledor, mengecilkan hal-hal yang besar. Orang Jepang yang berdisiplin sangat tinggi saja kelimpungan menghadapi bencana nuklir mereka, bagaimana dengan orang Indonesia yang  lebih sering tidak mengindahkan aturan?

Sebuah celetukan membuat saya tersenyum miris: “Gimana nggak khawatir? Tabung LPG saja meledak!” (tapi mari kita nggak membahas kalau sebetulnya bukan tabungnya yang meledak, tapi hanya selangnya saja yang bocor).

Masalah PLTN ini kembali panas diperbincangkan setelah peristiwa Fukushima. Berbagai tulisan pro dan kontra atas PLTN semakin marak memenuhi inbox email saya. Yang pro masih pantang menyerah mengemukakan fakta dan statistik yang menarik, sementara yang kontra dengan gembira menjadikan kasus terbaru di Fukushima sebagai pelajaran berharga sebelum “bermain-main” dengan nuklir.

Kenapa harus PLTN?

Saat ini sudah ada sekitar 440 PLTN di 30 negara di dunia yang menggantungkan seperempat energinya pada nuklir. Ada beberapa alasan mengapa negara-negara tersebut melirik penggunaan nuklir sebagai pembangkit energi. Pertama, sebab PLTN menghasilkan energi terbesar dengan biaya terkecil atau singkatnya disebut: cost-effective. Sebuah penelitian di Paris tahun 1982 menyimpulkan bahwa untuk membangkitkan 5.000 kWh energi diperlukan sekitar 1,1 juta ton minyak bumi, 1,65 juta ton batu bara, dan hanya 20 gram uranium alam. Dibanding batu bara dan gas alam, biaya pembangkitan energi dari nuklir relatif lebih rendah per kWh-nya. DI samping itu, PLTN juga dipercaya sangat bersih dibanding pembangkit listrik konvensial berbahan bakar fosil.

Lebih jauh, para pendukung PLTN membuka fakta-fakta tidak relevan seperti: kecelakaan mobil membunuh lebih banyak orang dalam setahun dibanding kecelakaan yang melibatkan PLTN, kecelakaan nuklir terbesar di Chernobyl hanya menyebabkan segelintir saja korban meninggal, serta fakta bahwa pembangkit tenaga batubara lebih banyak menyebabkan kematian di lokasi serta memicu serangan jantung dan penyakit paru-paru dengan angka signifikan. Macam-macam pokoknya. Kita dibombardir banyak sekali fakta yang memihak PLTN.

Boleh PLTN asal…

NIMBY (not in my back yard). Ya, boleh membangun PLTN asal jauh-jauh dari tempat tinggal saya. Tidak ada yang dengan senang hati menerima kehadiran PLTN di dekat tempat tinggal mereka. Logika yang sama dengan resistensi menerima pembangunan tempat pembuangan akhir sampah.

Ada yang mengkritik kenapa warga Jabodetabek sebagai pengguna energi terbesar tidak mau menerima PLTN dibangun di sekitar sana. Padahal studi menyebutkan bahwa bagian utara  Banten (Kalimantan dan Bangka Belitung) memiliki potensi gempa sangat rendah. Yang  resisten ini berpendapat bahwa menempatkan PLTN di Jabodetabek terlalu berisiko secara politis seandainya terjadi apa-apa di atas PLTN tersebut. Yang lain sewot dan lalu mengambil analogi semacam: hampir semua pilot project dilakukan di Jakarta, kenapa nggak demikian dengan PLTN?

Kenapa tidak harus PLTN?

Saya sudah baca banyak literatur yang mengatakan kalau PLTN ini bisa membangkitkan energi paling cost-effective, paling bersih, dan ramah lingkungan sebab nggak ada limbahnya. Itu tidak sepenuhnya benar, sebab sampah radioaktif masih “dibuang begitu saja” (tentu saja dengan pengamanan ekstra ketat pula).

Saya akan lebih tenang kalau Indonesia menyasar sumber energi terbarukan yang relatif lebih “aman” dan berisiko lebih kecil. Masih ada panas bumi (geothermal), surya (solar), angin (wind), dan air (hydro). Geothermal saat ini sedang sangat populer. Berbagai statistik menyebutkan potensi panas bumi di perut Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Macam-macam statistiknya. Ada yang mengklaim kita di urutan pertama, kedua, keempat, dan lain sebagainya. Namun nyatanya, geothermal belum menjadi primadona pembangkitan energi di Indonesia. We’re going there, begitu kata penguasa negeri.

Tenaga surya juga bukan ide buruk. Kita punya iklim tropis dengan matahari melimpah, meski banyak yang menyangsikan karena cuaca yang nggak menentu, sering mendung… ah, itu alasan orang malas (dan nggak punya banyak uang). Sungguh malu mengetahui kalau saat ini Jerman dan Spanyol menjadi produsen energi dari tenaga surya terbesar di dunia. Ya! Jerman yang berlangit muram itu!

Jadi ada apa sebenarnya dengan negeri kita yang punya semua potensi sumber energi, baik yang fosil maupun yang terbarukan? Benarkah kita sekaya itu? Dan… benarkah kita sepintar itu?

Studi kelayakan yang menyeluruh hingga ke segi politik, sosial, dan security (termasuk mempertimbangkan faktor terorisme) perlu terus dilakukan. Saya tidak akan memandang sebelah mata BATAN dan komunitas yang percaya akan kebaikan PLTN bagi kelangsungan ketersediaan energi di Indonesia. Namun mari menyadari kalau masyarakat perlu diyakinkan bahwa PLTN memang aman dan tidak seseram yang dibayangkan, kalau PLTN punya kode-kode keselamatan yang sangat ketat dan diawasi dengan ketat pula oleh IAEA  (International Atomic Energy Agency). Sayangnya, pekerjaan meyakinkan orang bukanlah pekerjaan mudah :-). Buktinya… saya yang sudah membaca begitu banyak “keindahan” PLTN saja masih skeptis pada kemampuan bangsa kita mengelola sebuah PLTN.

Jadi… hanya begitu saja argumen saya mengenai PLTN.

—-

Fun facts:
– Saat ini Indonesia punya 3 reaktor untuk riset (research reactor)
– Indonesia sudah mengusulkan pembangunan 2 PLTN pada tahun 2004
– Dalam blueprint pengelolaan energi nasional 2005 – 2025, batubara masih akan menjadi mayoritas sumber energi (32%), sementara nuklir akan menyumbang 2% dari total pembangkitan energi
– Risiko tertinggi akan radiasi kebocoran nuklir dengan skala 10 Sv bisa menyebabkan 10.000 kematian langsung (instant death)
– Setahun setelah peristiwa Chernobyl, radiasi di sekitar lokasi tersebut sekitar 50 mSv)

—–

Tulisan ini merangkum tulisan dari berbagai sumber seperti:

PLTN di Indonesia (oleh: Bambang Eko Afiatno)
Candles Kill Many More than Nuclear Power
http://en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_and_radiation_accidents
http://en.wikipedia.org/wiki/Chernobyl_disaster
http://en.wikipedia.org/wiki/Cost_of_electricity_by_source
http://www.icjt.org/an/tech/jesvet/jesvet.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Fukushima_I_nuclear_accidents
http://www.itb.ac.id/news/3154.xhtml