Suicidal Thought

When one realizes that his life is worthless, he either commits suicide or travels (Edward Dahlberg)

I suddenly understand
why some people decide to slay themselves
or consider doing it at some point

What I mean by understand is
to really understand and do not blame
Life gets harder

Those people — who decided to end their life —
are those who don’t see any more hope ahead
They don’t know what else to do
They don’t know what to achieve
They feel life is unfair
They face a dead-end

I am not afraid of dying I just don’t want to (Robbie Williams)

I was thinking about my death too
Would it be easy?
Would it be easier than to be alive?

I am in smothering circumstances (of course)
If things go smoothly and pretty
I would definitely wish to live forever

More than one soul dies in a suicide

He he he 🙂

But hey,

I don’t plan to cut off my vein
nor to jump off a bridge
nor to swig a handful of sleeping pills
Not at all!

I was just thinking about death
about my insignificant being
about my forgotten glory in the past

Why kill yourself? Life will do it for you. 

—–

 

    

PS. For those who know me in person, it was just another rough night. Jack Nicholson once said that if he was alone two three nights in a row, he’d start writing poems about suicide. I did. I am still too afraid to die anyway 🙂

 

Kematian dalam Statistik

Death of a person is tragedy. Death of many is statistics.

Ada dua kepastian dalam hidup: ketidakpastian dan kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS 29:57). Kematian menjadi satu mekanisme yang disediakan Tuhan untuk menjaga keseimbangan Bumi: makhluk hidup datang dan pergi.

Kalau dipikir-pikir, kematian adalah bentuk perpisahan paling berat sebab nggak ada jalan kembali buat yang sudah terlepas jiwa dari tubuhnya. Syok, tidak percaya, marah, berkabung, dan mungkin trauma adalah emosi yang normal dirasakan atas kematian. Kadang nggak mudah merelakan kepergian orang-orang yang kita cintai untuk selamanya. Kadang Tuhan menjadi sosok paling dibenci karena merenggut sebuag nyawa yang dulu Ia ciptakan.

Death Statistics

Kematian seseorang adalah tragedi. Tapi lucunya”, kematian bisa menjadi hal kasual ketika ia nggak lebih dari sekadar statistik sebagai bahan perbincangan.

Peristiwa paling membekas dalam ingatan ketika statistik kematian menjadi headline di mana-mana adalah:

1. September 11 attack tahun 2001 yang menewaskan sekitar 3,000 orang
2. Bom Bali tahun 2002 yang menewaskan sekitar 202 orang, dan
3. Bencana tsunami Aceh yang menewaskan sekitar 230 ribu orang.

Ya, di balik bencana, orang selalu punya pertanyaan tentang berapa banyak sebuah malapetaka menyebabkan korban jiwa. Semakin banyak, semakin dibicarakan. Gempa di sana, berapa yang meninggal? Gempa di sini, berapa yang meninggal? Kerusuhan di situ, berapa yang tertembak mati? Kecelakan pesawat atau kapal laut, berapa yang hilang dan pulang hanya nama? Kadang kita lupa bahwa setiap jiwa yang terlepas dari tubuhnya itu meninggalkan kisah sedih dan berarti. Bukan hanya angka.

 

Since the beginning of the year, more than 236,000 people have been killed by disasters and nearly 256 million have been affected by earthquakes, floods, tropical storms and landslides according to the latest figure by the Centre for Research in the Epidemiology of Disasters.

Selain bencana alam, kecelakaan juga menjadi penyebab kematian massal yang “hangat” diperbincangkan, terutma kecelakaan pesawat terbang — yang meski kemungkinan terjadinya paling kecil dibanding alat transportasi lainnya, risiko yang ditimbulkan paling besar. Kecelakaan paling fatal yang pernah terjadi adalah peristiwa rubuhnya gedung WTC di New York akibat pesawat Boeing yang dibajak dan menabrak gedung kembar tersebut. Info lebih banyak klik di sini.

Fiuh… anyway, saya nggak sedang ingin mengkritik apalagi menyarankan sesuatu. Ini cuma pengamatan pada bagaimana kita yang masih hidup memperlakukan kematian.