New Year’s Resolution

I didn’t make any targets last year, but I think I need some for 2016. For the sake of progressing and moving forward.

Resolution: a firm decision to do or not to do something

The key word this year is skill. I want to learn several new skills that I think I will enjoy to do and will be useful.

  1. Able to make bags and purses. I will take sewing classes for it early this year and buy a decent sewing machine.
  2. Able to play harmonica. I really like the bluesy sound of harmonica and I think this instrument is cool to play. Have been checking some tutorials on Youtube, and I will be diligent to practice. Nothing too ambitious about this, I just want to fluently play a couple of songs.
  3. Able to make graphical designs using Illustrator and Photoshop. This one is rather tough because not only learning the technique, but I will also need to polish my sense of art.
  4. Understand and speak basic Swedish.
  5. Read more books. I’m inspired by Mark Zuckerberg who reads one book a week. I will try that. Yes, 52 books.

That’s all. If they are accomplished, I believe I would be a completely different person by the end of the year :).

 

 

Pengguna Jalan Paling Ngawur di Jakarta

Menyeberang jalan sembaranganBerdasarkan hasil observasi dan pengalaman pribadi, berikut adalah lima pengguna jalan paling ngawur di Jakarta yang sering menambah kuruwetan kota:

  1. Sepeda motor. Pengendara sepeda motor adalah juaranya ngawur, mungkin karena ukurannya yang kecil sehingga bisa bergerak gesit. Mereka sering nyelonong seenaknya, menyusup sekenanya, melawan arus, memanfaatkan trotoar, hingga merusak pembatas jalan.
  2. Bajaj. Sopir bajaj adalah runner-up dalam berkendara ngawur di jalanan Ibukota. Mentang-mentang rodanya cuma tiga dan bisa bermanuver dengan cepat, bajaj gemar banget meliak-liuk di antara mobil dan sepeda motor, memperebutkan jalan.
  3. Kopaja/metromini. Naik kopaja atau metromini, apalagi kalau duduk di bangku paling depan, serasa naik roller-coaster. Sopirnya selalu terburu-buru (ngejar setoran katanya) dan berhenti seenaknya ketika menaikkan dan menurunkan penumpang. Meski menakutkan, penumpang masih doyan menggunakan moda transportasi yang murah ini.
  4. Angkot/mikrolet. Sopir angkot menduduki peringkat keempat dalam “kompetisi” pengguna jalan paling ngawur Jakarta. Suka menyerobot, rebutan penumpang, menerobos lampu merah, berhenti seenaknya, ngetem sesukanya, buang sampah sembarangan, dan… banyak banget sopirnya yang masih belia (saya yakin mereka nggak punya SIM).
  5. Pejalan kaki. Yang terakhir ini, meski sering dilanggar haknya, ternyata juga doyan ngawur di jalan terutama menyeberang jalan di mana saja. Beberapa kasus dapat dimaafkan, tapi kadang bikin gemes kalau ada yang asal nyelonong padahal tidak jauh dari situ ada zebra cross atau jembatan penyeberangan.

Sopir angkutan umum memang mendominasi daftar di atas. Namun juara 1 dan 5 adalah masyarakat biasa yang bisa berasal dari berbagai kalangan. Saya berandai-andai mengenai sebuah kesimpulan menyangkut perilaku pengguna jalan yang bisa ditarik dari observasi sederhana ini. Peneliti mungkin dapat menguji hipotesis bahwa perilaku ngawur di jalan bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain: tingkat pendidikan, tingkat pendapatan/kesejahteraan, kebiasaan lingkungan sekitar, serta kondisi psikologi/emosi pengguna jalan.

Jadi, setidaknya kalau kamu merasa berpendidikan dan sejahtera, sudah sewajarnya bersikap lebih anggun di jalan ya :).