Tobavaganza (1): To the Island of Samosir


*** Scroll down for English version ***

Panorama - overview

The view taken from Tele (over 1500 meter above sea level)

Akhirnya! Datang juga kesempatan untuk sejenak melepas penat dari pekerjaan dan hiruk pikuk Jakarta yang menguras energi dan kesabaran. Tinggal selama tiga hari tiga malam di Pulau Samosir, di tepian Danau Toba benar-benar obat manjur yang bisa membersihkan lelah dan stres perkotaan.

Saya pergi ke sana berdua dengan F. Di pertengahan Desember yang sering mendung dan hujan, kami beruntung selalu mendapat cuaca cerah di siang hari sehingga bisa menikmati danau dan sekitarnya dengan maksimal. Saya akan bercerita mengenai perjalanan ini termasuk info dan tips yang mungkin berguna untuk kalian yang berencana relaksasi ke sana.

Kami berangkat dari Jakarta naik AirAsia (tiket IDR 1.300.000/orang pp) yang berangkat jam 9 malam (delay 1 jam) dan tiba jam 11 di Medan. Karena kereta bandara (tiket IDR 80.000) sudah tidak beroperasi jam segitu, kami naik “taksi” seharga IDR 150.000 untuk menempuh jarak sekitar 25km ke pusat kota Medan. Pilihan lain untuk mencapai pusat kota dari bandara adalah dengan Bus Damri (tiket IDR 50.000).

Kami menginap semalam di Hotel Pardede International yang terletak di Jl. Juanda (IDR 318.000/malam). Saya tidak merekomendasikan hotel ini karena ada kesan “shady” dan belakangan saya dengar rumor bahwa hotel tua ini banyak digunakan oom-oom untuk hal-hal yang tidak senonoh😀. Alamak!

Esoknya kami berangkat menuju Parapat. Dari hotel, kami naik becak-motor (IDR 30.000). Perjalanan sangat jauh, sekitar 1 jam perjalanan. Mungkin dengan taksi akan lebih baik, tapi… naik becak-motor sangat seru! Becak ini membawa kami ke Terminal Amplas mencari Bis Sejahtera yang akan membawa kami ke Parapat. Kata orang lokal, ini adalah satu-satunya bis ke Parapat (IDR 32.000). Perjalanan ditempuh dalam 5 sampai 6 jam. Saat itu kami sampai tujuan dalam 5,5 jam. Bisnya tidak ber-AC dan penuh dengan barang-barang “eksotik” yang dibawa penumpang lain seperti: sepeda motor (!), bawang, beras, alat pertukangan, dan anak ayam (!). Asap rokok juga kental di dalam bis.

Tips! Demi kenyamanan, saya dengar ada juga Bis Sejahtera ber-AC yang mungkin ongkosnya hampir dua kali lebih mahal. Pilihan lain untuk mencapai Parapat adalah dengan berbagi mobil/shared-taxi (IDR 75.000/orang) atau menyewa mobil (IDR 750.000/hari termasuk sopir dan bensin).

Two ferries: one to Tuk-Tuk, one to Tomok

Two ferries: one to Tuk-Tuk, one to Tomok

Kami berhenti di Pelabuhan Tiga Raja dan dari sana naik ferry (tiket IDR 10.000) ke Tuk-Tuk. Perjalanan ditempuh dalam 30-40 menit. Kapal ferry ini bisa mengantarkan tepat di hotel yang kita tuju atau paling tidak dekat dengan penginapan kita. Namun waktu kami tidak melakukan reservasi sebelumnya dan ternyata mencari kamar di Tuk-Tuk sama sekali tidak sulit.

Tips! Dengan penerbangan pagi dari Jakarta, kita bisa tiba di Samosir pada sore hari. Kapal terakhir dari Parapat ke Samosir berangkat jam 19:00. Kapal ada setiap satu jam. Ada dua pelabuhan yang dapat dicapai dari Parapat: Tuk-Tuk dan Tomok. Kebanyakan turis akan tinggal di Tuk-Tuk karena peninsula ini dirancang sebagai pusat pelancong.

Beruntung, kami mendapat tempat yang sangat nyaman tepat di tepi danau. Nama hotelnya adalah Tabo Cottages. Highly recommended! Harga bervariasi mulai dari IDR 275.000 sampai IDR 1.100.000. Hotel ini memiliki kolam yang menghadap ke danau dan dekorasi bernuansa alami. Di tepian Danau Toba, terutama di Tuk-Tuk, ada sangat banyak pilihan hotel maupun guesthouse. Saat kami hunting tempat menginap, tempat paling murah yang kami temukan seharga IDR 70.000/malam, namun tentu saja semua tergantung fasilitas dan suasana. Beberapa piihan populer lain: Samosir Cottage, Samosir Villa Resort, Carolina, Toledo Inn, dan Liberta.

Keesokan harinya, saya dan F mengarungi Pulau Samosir dengan sepeda motor yang kami sewa seharga IDR 75.000/hari. Selain sepeda motor, banyak juga persewaan sepeda (tapi saya tidak merekomendasikan sepeda karena jalanan di pulau ini berbukit-bukit, berlubang, kadang berbatu dan berlumpur).

Hut

The hut where I started writing this article

Kami memerlukan paling tidak 10 jam untuk menyusuri bagian luar pulau (tepian danau) termasuk sekitar 10 persinggahan untuk istirahat, makan siang, dan mengambil foto. Sedangkan untuk bensin kami membeli 4 liter. Di Pulau Samosir ada satu SPBU di daerah Pangururan (sekitar 3 jam perjalanan dari Tuk-Tuk),, selebihnya bensin dijual dalam botol seharga IDR 8.000/liter. Untuk rincian perjalanan mengelilingi Pulau Samosir, akan saya tuliskan dalam Tobavaganza bagian 2🙂.

Ah ya, saya memulai tulisan ini sambil ketika nongkrong di salah satu balai di hotel sambil menikmati indahnya Danau Toba dan bukit-bukit di sekelilingnya yang mempesona. Dengan alunan musik latar dan gemerincing hiasan kap lampu yang terbuat dari kulit kerang.

Damai.

—————————————-

Finally! Comes an opportunity to for a while release some tiresome of work and the hectic Jakarta that drains energy and patience. Staying for three days and nights in Samosir Island, by the beach of Lake Toba was really a remedy to clean up the urban stress.

I went there with F. In the cloudy and rainy December, we were lucky to have bright sunny days so we could maximally enjoy the lake and its roundabout. I’ll tell you a short story about this journey including some info and tips which may be useful for you who plan for some relaxation there.

We left Jakarta by AirAsia (ticket IDR 1,300,000/person vv) departing at 9PM (1 hour delayed) and arrived in Medan at 11PM. Since the airport train (ticket IDR 80,000) was no longer operational at that hour, we took a “taxi” at IDR 150,000 for 25km trip to the city center. Another option to reach the center from airport is by taking Bus Damri (ticket IDR 50,000).

We stayed a night in Hotel Pardede International located in Jl. Juanda (IDR 318,000/night). I will not recommend this hotel because of its “shady” feeling and later I heard a rumor that this old hotel is famous for indecent stuff😀. Oh dear!

A pool by the lake

A pool by the lake

The next day we went to Parapat. From hotel, we took a becak-motor (IDR 30,000). It was a quite far trip for around 1 hour. Maybe taxi would be better, however… riding becak-motor was so fun! This becak took us to Terminal Amplas to get in Bus Sejahtera which would take us to Parapat. According to the locals, this is the only bus going to Parapat (IDR 32,000). The distance could be reached in 5 to 6 hours. Lucky for us, it was 5.5 hours. The bus was without AC and was full of exotic stuff carried by other passengers such as: motorbike (!), onion, rice, carpentry tools, and baby chicken (!). Smoke from cigarettes was also thick in the air.

Tips! For more comfortable trip, I heard there is an AC Bus Sejahtera which might cost twice as much. Other options to reach Parapat are by shared-taxi (IDR 75,000/person) or rent a car (IDR 750,000/day with driver and gasoline included).

We stopped at Harbor Tiga Raja (literally: Three Kings) at took the ferry (ticket IDR 10,000) to Tuk-Tuk. The trip was 30-40 minutes. Such ferry can drop us exactly at the hotel we’re staying or at least the closest. We didn’t make any reservation before and apparently looking for a room in Tuk-Tuk is very easy.

Tips! With an early flight from Jakarta, we can reach Samosir by afternoon. The last ferry from Parapat to Samosir departs at 19:00. They operate every hour. There are two harbors could be reached from Parapat: Tuk-Tuk and Tomok. Most tourists stay in Tuk-Tuk as the peninsula is designed as a tourist center.

We’re lucky to get a very nice place by the beach. It was Tabo Cottages. Highly recommended! The room rates vary from IDR 275,000 up to IDR 1,100,000. It has a pool facing the lake with beautiful natural decoration. Around Lake Toba, especially in Tuk-Tuk, there are many options for hotels or guesthouses. When we’re hunting for a place to stay, the cheapest we could find was at IDR 70,000/night, but well, everything depends on the facility and quality. Several other popular choices: Samosir Cottage, Samosir Villa Resort, Liberta, Carolina, Toledo Inn.

Panoramic lake and hills

Panoramic lake and hills

The next day, F and I were cruising Samosir Island by a motorbike we rent at IDR 75,000/day. Other than motorbike, there are also bikes for rent (but I won’t recommend this because the roads there are quite hilly, holey, sometimes rocky and muddy).

It took us at least 10 hours to go down the roads, the outer part of the island including around 10 stopovers for rest, lunch, and photo hunting. We bought 4 liters of gasoline for it. Samosir only has one gas station located in Panguguran (about 3-hour drive from Tuk-Tuk), the rest is sold at street stalls at IDR 8,000/liter. For a detailed story of cruising Samosir Island, I’ll write separately in Tobavaganza part 2🙂.

By the way, I started writing this at one of the huts whilst enjoying the beauty of Lake Toba and its charming surrounding hills, accompanied by relaxing background music and sweet chirping of lamp cover made of shells.

Peaceful.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s