Wajah Sedih Jakarta


Saya tidak menemukan judul yang tepat. Tapi biarlah saya menyebutnya: Unhappy Jakarta. Jakarta seems not happy. And I am not happy.

Jakarta terus-terusan menguji kesabaran saya. Sejak pertama menginjakkan kaki di sini lagi, saya mesti berusaha beradaptasi, sekali lagi. Kali ini tidak lebih mudah dibanding kedatangan pertama saya dulu. Dulu saya excited, tertantang dan begitu bersemangat dengan harapan yang (tampaknya) indah. Kali ini saya merasa hopeless, tidak tahu apa yang saya mau, tidak tahu apa yang akan bisa saya kerjakan di sini selain menyelesaikan beberapa urusan yang tertunda sembari memakan sedikit demi sedikit tabungan.

Harga-harga naik. Ya, tentu saja. Mestinya yang semacam ini tidak perlu sampai mengejutkan saya. Tapi nyatanya… ya ya… saya terkejut. Belanja di Carrefour, di Matahari, melihat-lihat barang di Metro, Seibu, Sogo, dan toko-toko di Grand Indonesia… yep saya agak panik melihat perubahan harga-harga dan mesti menerima kenyataan begitu cepatnya saldo tabungan saya berkurang.

Saya berusaha menghindari naik taksi sekarang, mencoba memanfaatkan angkutan umum semacam kopaja, bajaj, angkot, dan TransJakarta untuk bermobilisasi. Tidak sesulit yang dibayangkan meski tidak terlalu menyenangkan sebab matahari kadang terik, hawa selalu gerah, dan polusi terhirup paru-paru tanpa ampun.

Air PAM tiba-tiba memutuskan berhenti mengalir. Oh dear God! Ini saya sedang berada di tengah kota Jakarta yang konon kabarnya disebut metropolitan. What a shame!

Dan saya melihat banyak sekali wajah tidak bahagia di sekitar saya. Mungkin orang-orang ini nampak susah karena tuntuan hidup yang tinggi. Mungkin karena ujian hidup yang berat. Mungkin karena meski (katanya) Jakarta menjanjikan masa depan yang cerah dan gemilang, ternyata jalan yang harus ditempuh seringkali menyakitkan. Saya tidak suka melihat wajah tidak bahagia. Lebih-lebih ketika saya bercermin dan mendapati ternyata wajah yang terpantul di sana pun tidak kelihatan bahagia. Atau mungkin… karena saya sekarang bergaul dengan orang-orang yang naik angkutan umum, saya jadi lebih banyak melihat wajah sedih. Money does have something to do with happiness, eh?

Tapi yang paling melelahkan berada di sini lagi adalah begitu banyaknya potret kemiskinan. Kemanapun kaki melangkah, kemiskinan nggak pernah absen menyambangi pandangan mata. Orang-orang dengan gerobak terasa makin banyak saja populasinya. Kadang gerobak itu ditarik, kadang didorong. Kadang berisi kardus, kadang berisi keluarga mereka; anak-anak dan mungkin istri. Hidup macam apa itu?! Orang-orang berbaring di pinggir jalan—mungkin nggak punya rumah—juga terlihat di mana-mana. Belum lagi para pengemis (yang seringnya berupa ibu lusuh dengan bayi di gendongan), pengamen, pedagang kaki lima yang tak laku dagangannya…

Sesak! Saya bilang menyesakkan karena belum ada hal konkret yang bisa saya lakukan. Memberi mereka selembar uang tidak akan menyelesaikan masalah, saya tahu itu. Uang itu hanya serupa air seteguk yang tidak menuntaskan rasa haus, sebab si penerima uang terus-terusan meminta air. Saya jadi kesal pada Pemerintah. Bukan perasaan yang bagus karena dua alasan: 1) itu tidak berguna sebab tidak juga menyelesaikan masalah, dan 2) saya tidak berbeda dengan kebanyakan orang lain yang bisanya menyalahkan Pemerintah atas ketidaksejahteraan ibukota ini.

Tapi saya juga tidak bisa menahan untuk tidak bertanya: seserius apa Pemerintah mengatasi masalah kemiskinan ini? Apakah mustahil kota raya ini terlepas dari kemiskinan? Apakah ini salah satu kutukan negara ketiga? Apakah mental warganya sendiri yang menyebabkan kemiskinan enggan beranjak pergi? Apakah masih ada yang bisa dilakukan? Sampai kapan? Kapan akan tiba saatnya saya lebih banyak melihat wajah-wajah gembira daripada wajah lelah dan kusam dan sedih dan nelangsa menghiasi jalanan?

Okay, mungkin ini cuma satu sisi buruk wajah Jakarta. Kota ini memiliki sisi lain yang indah dan gemerlap. Saya mencoba menuliskan sisi yang itu tapi saya terbentur satu kenyataan: kepalsuan.

———-

Saya menulis ini ketika baru kembali dari studi di Belanda sekitar tiga tahun lalu. Saya pikir isinya menarik untuk dibaca. Sekalian mengenang kegelisahan masa lalu yang sekarang berganti kegelisahan baru plus kegelisahan lama yang ternyata masih ada. Sekarang saya masih suka naik angkutan umum, namun tidak lagi bermusuhan dengan taksi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s