Indonesia: the paradise for expats


I intentionally write the title and sub-titles in English to attract the flies🙂 lalu menuliskannya dalam bahasa Indonesia supaya bisa rasan-rasan dengan leluasa (huahahaha…).

Cerita ini bermula dari rasa mulas ketika tahu perusahaan tempat saya mengais ilmu dan uang akan mempekerjakan seorang konsultan berkebangsaan asing dengan upah per hari sama dengan (bahkan sedikit lebih tinggi dari) upah saya membanting tulang (dan gelas-gelas) dalam sebulan. Saya ketawa ngikik saat membantu menulis terms of reference si konsultan sambil misuh-misuh dalam hati lalu menangis bombay di kamar malam-malam mengutuki nasib.

Dengan rasa gundah dalam dada, saya langsung berselancar di dunia maya, mencari, mengais, mengorek, mengumpulkan, dan menyelidiki segala macam informasi mengenai bayaran para expat yang konon sangat pintar dan sangat berpengalaman itu. Saya menemukan beberapa referensi. Namun sebagai pelengkap tulisan ini, saya memilih menyertakan lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pajak yang terbit sepuluh tahun lalu: KEP-173_2002 Standar Gaji Expat.

The astronomical figures…

Dalam peraturan yang keluar tahun 2002 tersebut, dilampirkanlah standar gaji expat berdasarkan bidang usaha, level, serta asal negara. Tampak bahwa orang USA ($3000 – 18000), UK ($5000 – $17000), Jerman ($4000 – 16000), dan Belanda ($5000 – $18000) adalah empat kewarganegaraan expat dengan standar paling tinggi dibandingkan lainnya, disusul Jepang, Australia, dan negara Eropa lainnya. Yang menarik lagi, tetangga dari India dan Filipina ternyata standar gajinya lebih tinggi daripada gaji kita-kita sang pribumi.

Silakan klik dan intip file itu sendiri yaa… sebab saya masih terlalu mulas untuk merangkumnya di sini🙂. Beranjak dari angka-angka yang fantastis itu, ada hal-hal lain yang kali ini bikin perut melilit. Para expat yang terhormat (karena tidak berdarah Indonesia) itu dianugerahi banyak fasilitas dan privilege yang oh-bikin-saya-ketawa panjang-tapi-ngenes. Sebut saja tunjangan tempat tinggal, tunjangan kesehatan, tunjangan sekolah anak-anaknya di sekolah internasional yang notabene mahal, jatah cuti yang lebih banyak dari para pribumi, plus tiket pulang kampung minimal setahun sekali.

The newly rich man alias orang kaya baru…

Tidak jarang para pendatang asing itu menjelma menjadi orang kaya baru begitu datang ke Indonesia. Dengan gaji tinggi plus biaya hidup yang banyak ditunjang, mereka menikmati hidup di sini yang biayanya lebih murah dibanding kebanyakan negara tempat asal mereka. Makan murah, transportasi murah, dan tentu saja rokok murah.

Berbagai keunggulan ekonomi itu masih dikomplemen dengan perlakuan sosial yang manis — berupa kemudahan dan keramahan yang diobral bagi orang asing terutama yang bule. Dengan masih mulas saya mesti mengelus dada menyaksikan bagaimana perempuan-perempuan Jakarta mengejar para bule ini kesana kemari. Padahal kadang si bulenya itu gendut, tua, botak pula hehehe… (ini ceritanya menertawakan diri sendiri). Lebih ancur lagi… kadang si bule udah ada yang punya.

Sudah bukan rahasia lagi kalau perempuan Jakarta “ditakuti” para istri expat karena sering membuat suami mereka tergoda. Ya gimana nggak tergiur… lha wong perempuan-perempuan itu udah cantik, seksi, eksotis, berpendidikan, “ramah” pula (bisa diraba dan dijamah, hahaha… uhuk uhuk!). Kata orang-orang tua sih nggak ada kucing yang menolak dikasih ikan😉.

Eh tapi ada sedikit pengecualian untuk orang India dan Afrika. Saya mesti berempati dengan dua ras tersebut karena saya menyaksikan tidak mudah bagi mereka mencari rezeki di Indonesia (dalam hal ini sample saya hanya Jakarta). Sebab keduanya mendapat perlakuan berbeda dibanding bule-bule expat. Selain gaji yang lebih rendah, mereka ternyata mesti bersabar karena sopir taksi yang sering menomortigakan mereka. Sopir-sopir seringkali menolak mengantar orang India dan Afrika dengan alasan: mereka pelit dan nggak pernah ngasih tip. Hehehe… nasib ya nasib…

In their defense…

Kalau kamu sudah mengintip daftar standar gaji itu, akan terlihat bahwa mereka yang bekerja bagi Pemerintah dengan dana bantuan luar negeri adalah penghuni tertinggi paradise Indonesia. Kisarannya adalah $13000 hingga $38000 per bulan. Bagi mereka, uang yang cukup buat bayar DP rumah bagus di Jakarta itu dianggap layak sebab toh itu uang mereka sendiri (bukan uangnya pembayar pajak Indonesia). Jadi suka-suka mereka dong kalau gajinya gede (sial! betul juga ya!).

Saya juga pernah nge-date dengan seorang perekrut asal USA. Saya menyampaikan unek-unek soal ketidakadilan yang saya rasakan sebagai pribumi. Eh, dia malah bilang kalau para tenaga asing itu sudah sepantasnya digaji gede sebab mereka memang qualified dan expertise-nya tidak dimiliki pribumi. Plus mereka tinggal jauh dari kampung halaman. Berbagai tunjangan yang mereka terima adalah pelipur lara kehidupan yang nyaman di negeri asal mereka. Saya manggut-manggut saja (karena nggak ada gunanya membantah), biarpun di setiap anggukan saya menjerit “bullshit” dalam hati.

Penjajahan itu belum usai…

Wah, saya jadi ngelantur yaa… yuk mari kembali ke jalan yang benar. Tujuan saya menulis cuap-cuap ini adalah untuk membuka mata kita wahai orang Indonesia untuk nggak menyerah dan nggak berhenti mengembangkan diri. Kita mungkin sudah dikutuk menjadi orang Indonesia yang posisi tawarnya sangat rendah di dunia internasional. Penjajahan belum juga usai. Kita yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa ini masih harus bertarung dengan manusia-manusia unggulan dari mancanegara di kandang kita sendiri.

Tapi hidup harus terus berjalan. Queen bilang: show must go on. Ada banyak hal berada di luar kendali kita, salah satunya ya soal gaji expat yang seakan berada di dimensi lain upah pribumi. Kita nggak bisa marah pada siapa-siapa dan memang tidak perlu marah pada siapa-siapa. Kita juga jangan lantas mengusir mereka dari bumi Indonesia lho… apalagi pakai bambu runcing… soalnya ini bukan zaman perebutan  kemerdekaan kayak dulu.

Let’s see it this way: they are just human looking for a good life. It’s just happened that the good life is in your beloved Indonesia. What about us? the natives? Well, we continue our fight, our pursuit of a good life. Even if have to run side by side with those expensive experts.

13 thoughts on “Indonesia: the paradise for expats

  1. Terus gimana date-nya sama si perekrut? Jadi berlanjut ngga? Hehehe… Iya ya padahal kadang2 kemampuan kita ngga kalah dengan para bule. Udah gitu di sebagian besar kasus, kita lebih ngerti soal negara kita sendiri ya…

    • hahaha… sayangnya nggak berlanjut😀
      iya, saya itu paling sedih kalau yang datang kesini bukan yang benar-benar tenaga ahli yang jam terbangnya udah tinggi. tapi bagusnya, lumayan bukan kecengan wakakak

    • diah kartarahardja says:

      mungkin watak sebagian masyarakat kita masih terjajah secara psikologis selama masa penjajahan bangsa eropa atas asia …. hanya segelintor saja masyarakat kita yg punya watak
      BERDIRI SAMA TINGGI, DUDUK SAMA RENDAH” …. * stokoh/publik figure tsb : oekarno-hatta, kwiek K gie, BJ habibie, sandiego uno, erik tohir, dan beberapa rekan kantor saya sekarang ini …

  2. yopfatra says:

    kalo expat indo di negeri orang udah lumayan dihargai..tapi teuteup aja masih kalah ma whitemen (south african, american,belgian,and even..Indian) hehehehehe..
    -A greet from DR Congo-

  3. adhi says:

    Kasihan memang bangsa Indonesia. Saya punya pengalaman pribadi training di bidang O&G dengan 2 trainer di sebuah training provider di Indonesia. Trainer pertama white Canadian, kualifikasi Master dengan pengalaman 20 tahun, trainer kedua Indonesian berkebangsaan Amerika, kualifikasi PhD dengan pengalaman 25 tahun, dan harga trainingnya dihargai SETENGAHnya dari yang bule!

    Amazing really! Jadi bahkan sudah American citizen, kalau warna kulit tidak WHITE ternyata belum sama kompensasinya.

    Konsultan2 O&G juga yg Indonesian jg pasti ratenya lebih rendah daripada Expat meskipun punya kewarganegaraan dan kualifikasi yang sama.

    So all the talks about standard itu memang bullshit.

  4. Jimy says:

    waahh,kalau soal yg wanita wanita suka mengejar bule itu kan memang sudah ada dari jaman dahulu n jaman penjajahan belanda juga jepang,saat itu kan banyak nona nona pribumi hubungan sama orang belanda n jepang.. wkwkwkwkwkk!!

  5. soni says:

    suatu bangsa dan negara hebat atau maju nya semua tergantung wanitanya…jika wanitany hebat mendidik mental anak lelakinya maka negara tsb akan maju , tapi jika mayoritas mental wanita di negara/ bangsa tsb bobrok maja bobrok pula bangsa/negara tsb . Misalnya wanita di negara tsb mayoritas suka produk impor secara membabi buta maka bangsa akan mengahargai produk impor…itu menurut analisa saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s