Mitos yang Salah tentang PNS


Sudah bukan rahasia lagi kalau pegawai negeri sipil (PNS) adalah salah satu profesi yang paling dicari di Indonesia Raya. Tiap tahun, rIbuan orang berduyung-duyung mengikuti seleksinya (kecuali tentu saja tahun-tahun di mana penambahan PNS sedang dihentikan). Kenapa demikian? Setelah melakukan observasi dan riset sederhana, ternyata yang paling dicari orang dari profesi ini adalah:
security (long lasting employment with almost zero possibility to be laid off)
– dana
pensiun (yang meskipun nggak seberapa tetap menjadi bentuk jaminan masa tua yang menenangkan)
– peluang untuk menyambi menjadi pengusaha
– power atau authority (kekuasaan atau kewenangan)

Ketika dulu saya menjadi PNS dan diberi orientasi mengenai kehidupan per-PNS-an, saya ingat ada satu materi yang membuat saya begitu eneg (alias ingin muntah) yaitu: Citra PNS. Masyarakat punya pendapat mengenai PNS. Kebanyakan bukan pendapat yang bagus, sebab peribahasa “nila setitik rusak susu sebelanga” berlaku di dunia PNS. Karena itulah Citra PNS dianggap sebagai materi yang penting dalam kurikulum orientasi.

Kali ini saya sedang ingin membahas menyanggah beberapa pendapat, atau sebut saja mitos, yang menurut saya tidak benar atau tidak sepenuhnya benar. Mitos-mitos itu adalah……… eng ing eng……….🙂

1. Masuk PNS itu harus nyogok

Tidak benar! Mungkin ada masanya ketika PNS dapat diperjualbelikan dengan 20, 30 atau 70 juta. Yang jelas saya tahu pasti kalau saya dulu masuk lewat tes berlapis, saya tidak kenal siapapun di sana, tidak dipungut biaya apapun dalam tes, dan tidak membayar siapapun. Saya cukup yakin semua teman seangkatan saya, dan beberapa angkatan di atas dan di bawah saya juga menjalani proses yang sama. Demikian juga dengan saudara dan teman-teman saya di daerah. Kenyataan ini cukup membuat mitos pertama terbantahkan. Masuk PNS itu tidak harus nyogok🙂.

2. PNS itu orangnya bodoh-bodoh

Ini juga salah. Setidaknya di Departemen tempat saya dulu melamar menjadi PNS, IPK minimal untuk lulusan S1 adalah 2.75 (sekarang mungkin sudah naik lagi standarnya). Lulusannya pun harus berasal dari universitas dan jurusan yang terakreditasi A. Saya sendiri lulusan ITS Surabaya. Teman-teman saya dulu lulusan UI, ITB, UGM, Unpad, Trisakti, Undip, dan universitas berkualitas lainnya. Jurusannya pun nggak main-main: Teknik Kimia, Teknik Perminyakan, Ekonomi Pembangunan, termasuk… ehem… Statistika😀. Jadi, kalau dilihat dari asal universitasnya, jurusannya, IPK-nya kita bisa sanggah pernyataan di atas.

3. PNS itu korup

Gayus memang korup. Negara banyak dirugikan karena ulahnya. Pejabat banyak yang korup dan berkolusi juga dalam sistem lelang (mengadakan lelang tapi pemenangnya sudah ditetapkan sejak awal, lalu akan ada bagi hasil di akhir proyek). Saya dulu juga pernah korup atau membantu kegiatan korupsi: menerima uang rapat (ceperan 100 sampai 500 ribu karena duduk manis dalam rapat), atau dinas ke daerah sendirian tapi membawa lima SPPD lalu ngasih amplop ke orang yang men-stempel SPPD (dengan demikian, orang-orang yang nggak dinas akan mendapat uang dinas dan saya mendapat sedikit lebih sebagai upah jalan). Tapi tidak semuanya seperti itu. Saya tahu beberapa PNS yang tidak korup. Dan saya juga tahu yang bukan PNS korup🙂. Tidak semua PNS korup.

4. Jadi PNS tidak bisa kaya

Salah besar! Banyak sekali PNS yang lebih kaya dari yang bukan PNS, hehe. Kita memang tahu gaji PNS nggak seberapa. Tapi tunjangan (terutama PNS pusat dan terutama lagi Departemen strategis) tergolong tinggi dibanding yang bekerja di swasta. Depkeu tentu menjadi contoh favorit karena mereka bisa mendapat 7 juta untuk golongan IIIA, sementara yang bekerja sebagai bank officer dengan latar belakang pendidikan yang sama harus bersabar dengan gaji di bawah 7 juta. Banyak PNS yang mengoleksi properti mahal, mobil mewah, atau simpanan emas. Biasanya sih mereka punya usaha sampingan. Tapi ada beberapa juga yang usaha sampingannya adalah mengurusi proyek di kantor🙂. Kita nggak usah membahas Gayus ya, nanti malah sakit hati karena iri, hehehe.

5. Kalau sudah masuk PNS susah keluar

Kenyataannya, nggak susah kok. Ada banyak contoh PNS yang keluar setelah beberapa saat mengenyam hidup sebagai abdi negara. Ada yang baru setahun, tiga tahun, ada juga yang sudah lebih dari sepuluh tahun dan sempat mencicipi posisi hingga eselon 3 memutuskan melepas jabatannya. Normalnya memang profesi PNS adalah pelabuhan terakhir bagi kebanyakan orang. Setelah lelah melanglang buana di dunia swasta atau dunia serabutan, banyak yang jungkir balik berusaha menjadi PNS dan menjadi abadi di sana hingga pensiun. Tapi, kalau seseorang memang nggak kerasan dan punya alasan kuat untuk resign, tidak mustahil untuk berhenti menjadi PNS. Kalau berhentinya baik-baik, nanti akan diberi SK yang menyebutkan kalau yang bersangkutan “diberhentikan dengan hormat atas permintaan sendiri.”

Sekian dulu rasan-rasan PNS-nya. Mungkin ada mitos yang lain, tapi capek ah nulisnya!

😀

49 thoughts on “Mitos yang Salah tentang PNS

    • begini Ibu Wulan, kalau PNS di daerah memang jadwal kerjanya sampai jam 2 aja, jadi memang sudah boleh pulang. di pusat, setahu saya, ada sekitar 30% orang yang sering sekali mesti pulang jam 2 pagi (bukan siang). kasihan sekali orang-orang itu kalau disamakan dengan yang malas.

      (asik yo bahasaku?) :p

  1. Tomo says:

    hmm.. mungkin ada benarnya.. tidak selamanya PNS itu seperti yg dimitoskan… masih ada PNS yang bersih dan berdedikasi … TETAPI untuk mengatakan mitos itu salah, saya tidak setuju…
    mungkin ibu lia termasuk org yg beruntung, masuk PNS dengan murni, pintar, tidak korup, dll. TETAPI diluar sana, terutama di daerah, praktek-praktek tsb memang benar-benar terjadi, dengan kata lain itu tidak mitos buk…

    Coba ibu jalan-jalan ke kabupaten, disitu PNS berlagak layaknya raja, melayani masyarakat setengah hati, birokrasi berbelit, dan UUD. Mo bikin akte lahir anak aja susaaaaah banget, lempar sana, lempar sini, bolak-balik, seolah-olah saya ini tidak akan bisa mendapatkan akte lahir anak, tapi begitu sodara saya sodorin 200rb, besok akte selesai !!. Jujur, saya prihatin banget dengan kondisi ini, kedua ortu saya dulu jg PNS, tapi tidak pernah seperti sekarang.

    Bukan rahasia lagi, mau masuk PNS sogok sekian puluh juta, mau naik pangkat sogok lagi, belum lagi korup sana-sini, gaji kecil tapi bisa punya rumah mewah. Ini fakta, bukan mitos buk…

    Dan banyak lagi bobroknya PNS yang gak mungkin saya beberkan disini. Intinya saya cuma ingin bilang, kondisi riil dilapangan itu jauh berbeda dengan yang ibu paparkan disini. Mohon kiranya survey, dan buka wawasan terlebih dahulu sebelum ‘menegakkan benang basah’ seperti ini.

    Saya mohon maaf ya kalo ada kesalahan kata / kalimat yang mungkin dirasakan menyinggung.

    Salam

    • hehehe… nggak usah minta maaf. kan ini negara yang menjamin kebebasan berpendapat🙂. memang masih ada banyak sekali PNS yang suka bikin sakit hati…

  2. Jani says:

    Makanya saya gak mau jadi PNS,Soalnya ya gitu deh…tanpa dijelaskan sudah pada tau semua.saya cukup tenang dengan kerja di perusahaan swasta.untuk penghasilan ya 4x lipatnya Gol lllA di PNS.

      • Saya ini sedang cerita apa yang saya lihat, Pak. Belum tentu saya melakukan juga. Tapi sepengetahuan saya, memang PNS itu mendapatkan banyak penghasilan lain selain gaji dan tunjangan, misal: honor tim yang tentu saja legal atau “entertainment” (bagi yang menerima)

  3. Xinius says:

    hmmm menarik juga…
    1. setuju tidak harus nyogok, tapi toh ada juga yang nyogok…jadi tetap saja tidak profesional.
    2.IP dan asal universitas tidak juga berarti tidak bodoh. System pendidikan di Indonesia terkenal mahal dan buruk. Menurut saya yang terpenting adalah hasil/output dari karya kita. Dan coba disurvey orang seluruh indonesia, tinigkat kepuasan terhadap pelayanan PNS. Saya sangat yakin angka tidak puas-nya yg menang🙂
    3.Tidak semua PNS korup…benar, tetapi juga tidak semuanya bersih kan….Tergantung sudut pandang korupsinya spt apa. Mobil dinas dipake sabtu-minggu ato dipake buat beli makan siang, atau lagi kerja sms-an, nge-charge hp di kantor…korupsi juga kan? Hanya karena kebiasaan jadi udah ga peka lagi sama yg kecil-kecil. Ingat, karena gaji anda dibayar rakyat lho…
    4.PNS bisa kaya karena usaha sampingan? wah ini yg barusan saya singgung, tergantung sudut pandang korupsi itu spt apa….hehehe biar yg baca yg menilai kwalitas PNS kita.
    5. Logikanya, hanya orang yg tidak punya kompetensi yg takut keluar. Kalo orang punya kompetensi dan profesional, keluar dari satu job, di luar sana puluhan tempat menyediakan karpet merah untuk nya.
    Bagaimana Ibu?

    • 1. di dunia swasta juga terjadi praktik sogok-menyogok
      4. usaha sampingan lewat nyalo proyek-proyek😉
      5. nggak juga. banyak yang nggak mau keluar karena pingin jadi pejabat dan jadi penguasa

  4. Agung Aditya Wardhana says:

    How about your live??you are alone or together with someone else??..I think you not enjoy with your live if you are still alone..Believe Me..you need someone to share with you..
    I not comment with your position now because every one have different goal…See you later with your description..

    • ini salah naruh komen🙂
      my life is wonderful, sometimes i am alone sometimes with someone else. i do enjoy my life. and i do agree we need someone.

  5. Bohong Semua!!! Pengalaman saya 6 Tahun jadi PNS:
    1. Yang tidak nyogok pada saat penerimaan cuma 1% dari total formasi yang ada.
    2. Ini salah, PNS emang tidak goblok2. Tapi malas2… Sekarang masuk PT negeri aja bayar, jaman sekarang semua bisa dibeli dengan uang mba…
    3. Sudah pasti. Ngga ada yang ngga korupsi. Cuma gaji aja yang murni (hak), lainnya diada-adain. Saya dapet uang tim 10 bulan. Per bulan 500rb. Padahal saya nggak ngapa2in (cuma tanda tangan aja). Bukan cuma 1, tapi satu tahun bisa 5-6 TIM.
    4. Yang ini betul, bahkan PNS bisa lebih kaya dari Presiden…
    5. Jangankan keluar sendiri, yang nggak masuk2 selama 6 minggu berturut2 aja ga bisa. Susah ngurus adm nya. Ijin inilah, ijin itulah, ijin Dirjen, Menteri, Presiden, yang pasti ijin dulu sama keluarga, siap gak hidup susah, karena biasa enak (KKN).

    • 1. valid nggak angkanya?🙂
      2. ah, yang goblok juga ada, hehe. yang malas banyak
      3. tunjangan juga hak dong… honor tim itu yang bikin hati saya panas, hehe… abis setahu saya, kerja mereka dalam tim nggak signifikan dibanding honornya
      5. saya ini contoh yang sukses keluar dari dunia pns🙂. sangat mensyukurinya hingga detik ini

      • Saya tiga tahun jadi PNS, Pak. Ibu dan kakak saya PNS dan saya sangat menghormati mereka. Saya dulu pas jadi PNS ngekos seharga 450ribu/bulan. Sekarang saya tinggal di apartemen. Alhamdulillah…

  6. ente PNS Dimana? Ane sdh 15 Tahun jadi PNS dI MA, Sekarang sdh Golongan IIIc baru bisa kredit rumah tpye 35, Jadi PNS Kagak mungkin bisa kaya Gan… kita sama2 tau aja berapa kisaran gaji yang diterima tiap bulan + TUNJANG, jangan kan mau punya mobil, kredit motor aja mikir dulu….. heheheh jangan bohongin masyarakat gan… PNS bisa punya mobil, rumah mewah dll apalagi kalo bukan korupsi, ane jga tau semua besaran remunerasi K/L ane cuma pingin jujur aja,
    Yang parah ente bilang PNS bisa jadi Pengusaha…. HAHHAHAHHA ngapain jadi PNS kalo ujung2nya mau jadi pengusaha…. botol (bodoh dan tolo) ente…

    • Pertama, terima kasih atas komentarnya. Kedua, karena Pak Saputra ini gaya nulisnya sangat kasar, saya akan coba untuk mengimbangi dengan gaya tegas🙂.

      PNS bisa kaya, coba cermati dengan lebih seksama. Sudah banyak contoh PNS yang kaya. Kalau Pak Saputra belum merasa kaya dan hanya bisa kredit rumah tipe 35 (bukan tipe 36 nih?) karena tidak pernah korupsi, saya salut dan saya doakan Bapak tetap istiqomah.

      Di DESDM, saat ini gaji + tunjangan untuk golongan III B sekitar 5,5 juta (belum termasuk honor-honor tim). Di Departemen Keuangan mungkin bisa mencapai 7 juta untuk golongan IIIA.

      Ada beberapa PNS yang bisa jadi pengusaha memang. Mungkin lingkaran pergaulan Bapak yang kurang luas😉. Saya nggak bodoh ataupun tolol (kan saya lulusan luar negeri dan mendapat beasiswa full dari Pemerintah Belanda. Itu ada banyak persyaratan akademis yang mesti dipenuhi lho…). Saya memutuskan keluar dari PNS soalnya saya ingin berkembang.

      Menurut saya, Pak Saputra ini orang yang tidak bahagia. Tapi saya dengan tulus mendoakan semoga Bapak tidak suka marah-marah lagi di blog orang seperti ini. Be open-minded.

    • Gan saputro alfino.

      Makanya kalo mau banyak duit jangan jadi pns daerah.
      Apalagi di pelosok, gimana gak suram hidup ente, 15tahun mau beli motor aja mikir padahal golongan IIIc. Kebanyakan nyekolahin sk di bank sih.

  7. Fifi says:

    Aku suka skali dgn tulisanmu yg ini, Lia.. Benar-benar apa adanya namun juga menyampaikan hal2 yg seringkali bikin males jawabnya klo ada yg nanya ttg PNS. Ohya, mengenai jam kerja, mungkin perlu ditambahkan..klo pada gak percaya suruh maen aja kekantor !! Kayaknya masih sering tuh pulang menjelang pagi..hehe.. Apalagi klo baru jam6-7 malam, masih sore…xixixi.. *lebay*

    Serius, mendukung tulisan mbak Lia.. Mungkin (atau pastinya) ada perbedaan tiap Kementerian/Lembaga apalagi pusat dan daerah, namun yg diceritakan mbak Lia terjadi di Kementerian yg sama tempatku bekerja..begitulah apa adanya.. ^_^v

  8. heheheee……beginilah untuk yang baik memang baik,, tapi untuk yang koruptor ya tetep aja koruptor…
    kebayang gak,,PNS yang membolos saat masih jam kerja,, apa itu bukan koruptor namanya,, misalnya dalam sebulan gaji mencapai 7 juta bagikan aja dalam 30 hari jadi gaji sehari sekitar 230rb bagikan dari jam 7-3 an, bagikan 8 jam saja berarti gaji per jam sekitar 30 ribuan.. jadi kalo PNS itu pulang tiap hari lebih cepat 2 jam saja sehari bararti mereka sudah korupsi 60 ribu sehari , kalikan aja 30 hari menjadi 1,8 juta,, dalam setahun 21,6 juta, kalikan selama 40 tahun berarti 864 juta rupiah,,, itu semua Haram kalo dimakan,, ingat itu,,,,,,sadar lah itu…semenit pun kita korupsi berarti tidak layak kita makan semua gaji itu,,, ingat lah HARRRRRAAAAMM

    • Poveriz says:

      kan gajinya perbulan om :p ngapain pusing2 ngitung bikin pusing diri sendiri aja =.= itung sekalian kalo boker om,

  9. Ricko says:

    Nice writing, despite eventually you decided to leave your glorious life as a PNS (tsaaaah)😀 you still have positive thoughts about it #RESPECT. Saya sendiri sudah bekerja sebagai PNS for almost 9 years, dan sekarang it’s time to move on for the sake of self development and embracing new challenge di luar per-PNS-an … well life as a PNS might suck (in terms of income) yet less pressure😀 but i wouldn’t become what i am now if i didn’t join PNS, being a PNS has given me opportunities to learn all about good and shitty things in government (penting banget untuk modal kerjaan selanjutnya), not to mention hold an international master and kissing London eye lol..

    Eh serius sekarang sudah punya apartemen, kerja di mana?? #pertanyaanyangmasihngekos :))))))

    • Sekarang saya kerja di dunia “development work”. Bisa tinggal di apartemen adalah hasil kombinasi beberapa aspek: rajin menabung (dulu pas jadi PNS ngirit banget dan rajin ngumpulin honor tim hehehe), ada tambahan penghasilan lain (dari nulis buku), dan keberanian utang bank🙂. I might say, if someone isn’t interested to be a pejabat, being PNS isn’t worthy in terms of self development.

      And I agree that with a background as government official, one can easily get good position when jumping into private sector.

      • Rocky says:

        Anyhow galau gak pada saat akan melepas atribut korpri, and how did you manage it? Setelah 9 tahun menikmati kenyamanan as a PNS, i am about to taking off my PNS attributes and start working in one of international organisations, leaving this comfort zone is a bloody nuisance somehow :)))

      • Senang dong melepas atribut korpri😀. I’m not a fan of “uniform” thus was so happy to finally doesn’t have to wear one. Menjadi PNS itu bukan zona nyaman, in my experience. Itu justru zona yang sangat tidak nyaman karena merasa tidak bahagia all the time😀. Bertanyalah dulu ke diri sendiri alasan ingin keluar dari PNS. I hope it’s not only about the money.

  10. sisca says:

    Kalau PNS didaerah sprti di Kab.OKU Timur dan OKU selatan Propinsi SUMSEL apa nggak lebih parah ya….. pendidikan saja hanya tamatan SMA ngantor jam 7.30 jam 9.00 sudah kelayapan kemana mana, jam 12 siang udah pada pulang tuh… hahahahahaaa enak gaji bulanan soalnya….

  11. Celine says:

    Thanks for sharing mbak Lia.
    I wish I can meet you face to face and share my details problem as PNS. 8 years…but I feel like 80 years😦 #lebay neh.
    I wanna resign as soon as possible but my family don’t want it. I feel so terrible right now. Unhappy in my daily works as PNS, but i must go to work early in the morning and go home after sunset. Boring, sad, illfeel,etc.
    How can I explain it for them so they can support my decision?
    Regards🙂

    • Hi Celine, please do share with me and other readers🙂. If you’re unhappy and you know the cause of your unhappiness then you’re lucky. The next step is “only” to do something to change it.

      There are obvious 2 options: 1) to stay and learn to love the job, or 2) to resign and pursue your interest/passion.

      When you said “family”, was it parents or husband? Sebab akan berbeda situasinya. My family (i.e. parents) didn’t like my decision, but fortunately they always let me do what I want. Now they are happy to see me happy on what I’m doing🙂.

      Where are you, btw? I assume you work in a ministry in Jakarta because you leave office after sunset?

      • ricko says:

        after awhile not visiting this blog, i am surprised found that i am not the only one who felt kuldesak working as a PNS, for almost 9 yrs, i struggled to be a self growth person among apathy, and tried hard to be recognised through contributing anything to my work. I was working for one of the ministries, indeed 8 to 4 pm working hours is just a sweet theory, sometimes i had to work during weekend or holidays. Regardless, to compensate my office provided additional incentives to make sure this “grumpy workaholics” remain silent😀 but it’s not the sum of the money that matters (well i did pro bono work, and that was quite something but i grasp it as a learning process), but more to whether this compelling task would actually give profound effect to the stakeholders, the fact is many works i had done were just rubbish (i felt bad to those who pay taxes, because their money sometimes is spent for nothing tsaaah) Many times the level of urgency of work increases due to misscommunication, ineffective system and the most commonly known is to make sure these little bosses got heap praised by the big boss.
        Now i am glad i made the right decision to quit from PNS, just to seek better opportunities by working for organisation that deals with global development issued, challenging and breathtaking as it is a completetely new world for me, but what ive done could be meanungful for my stakeholders which one of them is my previous ministy😀
        I second your words Lia, former PNS are very well rewarded in job markets, despite later your new colleagues are surprised and nosy why did you leave the most “comfy” work :)))) well i didnt feel comfortable and i didnt want to regret either for not taking chances quitting from the KORPRI😀 Luckily, i know my parents hate my decision but as they reckon i am a grown up man (jarang2x bokap gw kayak gini), so everything about me is on my hand.
        i hope you can solve your dillematic situation in a peaceful way (kayak mau perang aja)…..

      • Thanks for sharing, Ricko! So glad to know that you’re actually out!! Hopefully Celine (and maybe others) can pick some lessons from your experience. Oh how I wish they could soon feel how colorful the world outside PNS😀

  12. Nza says:

    Ini kalau boleh saya tebak, gaya penulisannya agak ber’majas’ ya mbak?
    Diatas mbak bilang cuma ada 2 options ya : stay dan belajar mencintai pekerjaan, atau tinggalkan dan mengejar passion kita. Misalkan saya pilih option 2, nah bisa share kah mba mungkin saya bisa belajar bagaimana mengejar passion saya?
    Thanks

    • Coba tebak dong majas apa itu yang saya pakai🙂. Bagaimana mengejar passion ya hmm… mungkin langkah pertama adalah mengetahui passion kita apa. Passion ini mirip dengan cita-cita/impian/keinginan. Kalau sulit untuk mengetahuinya, ada ciri khas passion yaitu: membuat kita gembira saat mengerjakannya.

      Supaya mudah, saya pakai pengalaman saya sebagai contoh ya? Saya punya passion 1) untuk bekerja di sektor yang berkaitan dengan energi dan lingkungan, 2) untuk bekerja dengan lingkungan internasional, 3) untuk tidak menjadi pejabat negara maupun staf pemerintah. Nah, dari sana saya lihat pilihan apa yang ada, lalu memutuskan, lalu melakukan. Waktu itu saya memilih resign, lalu ambil master manajemen energi dan lingkungan melalui program beasiswa.

  13. Nza says:

    Mungkin saya ini masih passion seeker, yg jelas yg saya tau, yg saya tekuni sekarang bukan passion saya. Mbak betul passion itu buat kita gembira, dan harus bangun pagi-pagi untuk sesuatu yg kita tidak suka dan tidak sepenuh hati itu rasanya tersiksa banget ya (curcol, hehe)

    Boleh ngobrol yg lebih private mba? Email or messenger? Hehe
    Thanks

  14. wong jujur says:

    PNS + pengusaha? itu namanya tidak menjaga amanah.
    Bukankah sudah ada aturannya bahwa PNS tidak boleh nyambi? Dan PNS harus loyal ke negara?

    PNS + Pengusaha = Munafik!! Harta haram kok dimakan!!

  15. @mira says:

    wahhhh…selamat yah,,mba udah bisa “bebas” dari dunia per-PNS-an..doakan saya bisa seperti dirimu ya, mba…btw, back ground pendidikan kita sama: statistika…seneng bisa tau sesama statistikawati bisa berhasil…doakan saya bisa keluar ya,,mba…saya sedang dalam usaha mengejar mimpi saya…semoga bisa berhasil, jadi saya bisa keluar dari dunia per-PNS-an…

    sedikit share: sampai saat ini saya sudah menjadi PNS selama 4 tahun-an..2 tahun yg lalu saya mencoba untuk mengejar mimpi saya, tapi ortu blm merestui (khususnya mama)…karena merasa sayang kalau sampai melepas semua atribut PNS…Tahun ini saya mencoba kembali mengejar mimpi saya, dan sudah 3/4 jalan…mungkin krn ortu sudah sedikit member restunya🙂

  16. ita says:

    Aneh ya gaji pokok brp..tp bs beli mobil.buat rmh.skaligus kuliahin ank 3 org..uang dr mn a itu..ya Allh jgn smpai ankku mkn uang hrm.lbh baik bgni usaha sendri.bnr2 keringt sndri.dlm alquran pun jls2 bhwa sebaik2nya rezeki adlh rezeki yg fihasilkn dr bnr2 bkrja keras

    • PNS kan menerima tidak hanya gaji pokok. Yang resmi (dan tentu saja halal) antara lain: tunjangan dan honor tim (apabila menjadi bagian tim tertentu dalam program). Tapi saya selalu salut sama pengusaha, apalagi yang tidak curang🙂. Semoga sukses usahanya Mbak Ita🙂

  17. venki saputro says:

    selama kita bergaul dengan korup dosa kita dan seluruh anak cucu kita akan sgt besar.walaupun kita jujur.tapi masih bergaul dengan korup laknat Tuhan semakin besar.banyak anak2 pns yg bandel2 nakal.membuat malu kluarga.itu tanda rejeki ortunya gk halal.semoga kita tetap di beri limpahan rahmat Tuhan.Amin

  18. nami says:

    mana yg namanya pak saputra kok gak muncul2 lagi. Gue setuju sama postingan mbak lia apalagi tentang nyambi jdi pengusaha. Gue sendiri ada kenal banyak kok pns yg nyambi jadi pengusaha dan penghasilannya lumayan. Keren mbak postingannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s