Murahnya Mobil


Sampai detik ini saya belum tertarik membeli mobil. Pertama, karena saya merasa nggak perlu bermobil (nggak bisa nyetir juga, tapi itu bisa dipelajari). Kedua, karena seorang kenalan memberitahu saya sebuah studi yang mengatakan bahwa orang Jakarta baru “layak” beli mobil kalau dia perlu bepergian dengan taksi sebanyak 1500 kali dalam setahun. Dengan matematika sederhana, itu berarti naik taksi 4 sampai 5 kali dalam sehari. Saya nggak melakukan riset untuk mencari tahu lebih jauh soal studi ini, tapi menurut dia, yang dimaksud layak di sini adalah kesimpulan yang ditarik setelah mempertimbangkan harga mobil, biaya operasional, dan perawatan.

Well, normalnya, orang tidak akan bepergian dengan taksi sesering itu. Tapi kenyataannya, Jakarta semakin sesak dengan mobil. Fenomena yang sering saya amati ketika saya naik mikrolet dan terjebak macet adalah: mobil-mobil di seputaran saya dinaiki hanya oleh satu orang. Ya! Pemandangan semacam itu hampir selalu saya jumpai. Mikrolet saya masih mending. Karena kalaupun saya adalah satu-satunya penumpang, setidaknya saya berdua dengan si sopir, hehehe.

Jadi ceritanya… hari ini saya iseng lihat-lihat harga mobil di intenet. Dan saya kaget karena ternyata harga mobil itu tidak mahal. Banyak banget mobil yang dijual di harga seratus jutaan. Bahkan untuk mobil second, harganya lebih banyak lagi yang miring. Duh! Pantas saja orang pada beli mobil! Apalagi orang Jakarta yang pendapatannya lumayan tinggi. Apalagi semuanya bisa dicicil. Apalagi bensin disubsidi. Apalagi bawa mobil itu bisa meningkatkan gengsi!

Banyak orang berpendapat bahwa dengan bermobil mobilitas akan semakin semakin mudah, bebas menentukan mau pergi ke mana. Pendapat itu ada benarnya. Tapi apa benar fleksibilitas itu setara (paid-off) dengan tingkat stres karena macetnya jalanan?

Jangan dikira saya nggak stres ketika menggunakan angkutan umum (baik itu busway, KRL, mikrolet, kopaja, dan taksi). Terjebak macet atau menunggu antrean atau berdesakan dengan penumpang lain juga ada level stresnya tersendiri. Bagi pengendara mobil, jelas kenyamanan menjadi prioritas karena tentu lebih enak terjebak macet dalam ruangan ber-AC diiringi musik dari sound-system yang yahud. Sementara pengguna angkutan umum harus bersentuhan dengan banyak orang dengan aroma yang kebanyakan nggak sedapūüėÄ.

Karena itulah saya nggak mau menyalahkan para pemilik mobil itu. Mereka punya uang buat beli (atau buat nyicil), punya uang buat bayar bensin (yang disubsidi!), punya uang buat bayar parkir, buat servis rutin, buat nyuci, buat bayar pajak, dan lain sebagainya. Saya juga nggak mau menyalahkan Pemerintah yang seolah-olah nggak kerja soalnya jalanan tambah macet (Pemerintah berulang kali disalahkan juga cuek aja, hehehe). Saya memang menulis ini bukan untuk mengkritik siapa-siapa, melainkan untuk menyampaikan rasa maklum menghadapi mobil di jalanan semakin hari semakin menyemut.

Sekadar pemanis tulisan, saya kasih contekan beberapa harga mobil second yang diiklankan online yaa… (siapa tahu ada yang mau lebih meramaikan lagi ibukota Jakarta yang rasanya makin sempit).

Daihatsu Sirion 2008: Rp. 105 juta
Daihatsu Taruna 2000: Rp. 80 juta
РDaihatsu Terios 2008: Rp. 148 juta
Daihatsu Xenia 2010: Rp. 125 juta

– Honda Jazz 2004: Rp. 118 juta
– Honda Accord 2005: Rp. 185 juta
– Honda City 2007: Rp. 152 juta
Honda Stream 2004: Rp. 165 juta

РKIA Carens 2005: Rp. 95 juta
KIA Carnival 2005: Rp. 105 juta
РKIA Picanto 2008: Rp. 99 juta
РKIA Visto 2003: Rp. 69 juta

Nissan Grand Livina 2007: Rp. 147 juta
РNissan Livina 2011: Rp. 175 juta
Nissan Terrano 1998: Rp. 110 juta
– Nissan X-trail 2004: Rp. 160 juta

– Mercedes C 200 1996: Rp. 95 juta
– Mercedes E 220 1997: Rp. 98 juta
– Mercedes E 320 1997: Rp. 155 juta
– Mercedes S 320 1997: Rp. 185 juta

Suzuki APV 2004: Rp. 107 juta
Suzuki Baleno 2003: Rp. 97 juta
РSuzuki Karimun Estillo: Rp. 88 juta
– Suzuki Swift 2007: Rp. 130 juta

Toyota Avanza 2007: Rp. 138 juta
Toyota Camry 2005: Rp. 180 juta
Toyota Innova 2005: Rp. 150 juta
– Toyota Rush 2008: Rp. 169 juta
Toyota Vios 2004: Rp. 115 juta
РToyota Yaris 2010: Rp. 163 juta

3 thoughts on “Murahnya Mobil

  1. Agung WA says:

    saya malah dengan modal hanya 31 juta sudah mampu menambah kemacetan di Jakarta…gak sampai 100 jt an….tapi tetep aja berutukan di jalan kalo lagi kena macet…hahahah…manusia….ckck…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s