Privilege


Ada janji lunch meeting dengan partner kerja, salah perkiraan, lalu terjebak dalam taksi di tengah kemacetan jalan di pusat Ibukota. Dengan nervous, berkali-kali melirik ke arloji, berharap bisa sampai tujuan tidak terlalu jauh dari waktu yang disepakati. Sebuah SMS dikirim untuk mengabarkan keterlambatan. Lalu dari arah berlawanan muncul sekawanan sepeda motor pasukan patroli dan pengawalan (patwal) dengan lampu berkelip-kelip dan dengung yang memusingkan, memberi tanda agar semua kendaran minggir, memberi jalan pada sebuah mobil mewah yang di dalamnya sedang duduk manis (atau gelisah) salah satu orang penting negeri ini. Plat mobil berawalan RI. Dalam sekejap sejalur jalan dikosongkan, sang pejabat melenggang dengan mulus dengan mobil cantiknya. Sempurna.

Tinggal di Jakarta mengharuskan kita cukup sering mengalami kejadian serupa. Maklum, begitu banyak orang penting di kota ini. Orang-orang yang dikawal pasukan pensteril jalan karena harus rapat dengan DPR lah, harus rapat dengan Presiden lah, atau hanya harus cepat sampai rumah karena lelah setelah seharian memikirkan urusan negara🙂.

Kadang menyebalkan melihat mereka dapat beraktivitas tanpa harus merasakan kemacetan Jakarta yang sudah di luar batas kewajaran. Kadang menyakitkan karena orang-orang itu, yang notabene adalah pengurus rakyat, tidak ikut merasakan penderitaan rakyat seperti kita. Tidak cuma soal jalan bebas macet, orang-orang penting ini juga mendapat privilege untuk menguasai satu elevator di kantor, sementara puluhan orang-orang (yang tidak penting) harus mengantri di satu elevator lain yang tersedia. Juga berbagai bentuk privilege seperti didahulukan dalam pelayanan publik, terbebas dari antrian, hingga “diizinkan” untuk melanggar peraturan imigrasi… Lebih sakit lagi ketika menyadari tidak cuma yang bersangkutan yang mendapat privilege itu, tetapi juga orang-orang dalam lingkaran keluarga dan kerabatnya.

Tapi kadang… di saat-saat pikiran sedang tenang dan waras dan dapat menganalisis sebuah situasi dengan lebih bijak, saya pikir mereka layak mendapat privilege itu.

“They deserve the privilege”

Oh tolong jangan protes dulu. Semua harus dipikirkan dengan pikiran jernih dan berimbang🙂.

They’ve tried hard to earn those privileges. Entah itu dengan mengerahkan kemampuan maksimal otak, tenaga, atau mengeluarkan pundi-pundi harta yang tidak sedikit. Privilege memang ada harganya, dan harga itu tentu bisa dibayar. Presiden misalnya. Seorang presiden harus melewati jalan yang begitu panjang dan berliku untuk sampai di kursinya. Ia harus merasakan begitu banyak malam tanpa tidur, malam-malam tidak tenang karena di balik punggungnya ia harus memikul banyak tanggung jawab dan utang untuk menyenangkan banyak pihak.

Seorang wakil rakyat pun demikian, entah itu yang berdedikasi pada rakyat atau yang meraih posisinya lewat proses jual beli yang tidak murah. Kebanyakan dari kita tidak mau berusaha sekeras mereka, kebanyakan dari kita tidak perlu mencaci maki mereka yang sudah mengorbankan begitu banyak hal itu hanya gara-gara mereka tidak harus merasakan macet.

Pengusaha kaya yang bisa membayar membership club-club mahal sehingga berhak menikmati berbagai fasilitas lounge eksekutif, memiliki pintu tersendiri untuk masuk dalam pesawat hingga tak perlu ia mengantri dan menunggu lama sebelum pesawat take-off.

Atau sekadar saya yang dulu sempat jadi anaknya Pak RT tidak perlu jauh-jauh datang ke kantor kelurahan untuk mengurus KTP karena petugasnya dengan senang hati datang ke rumah…🙂

Privilege has its price. If you can pay it (by all means necessary), then you deserve it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s