Jakarta oh Jakarta (2): Terrific Traffic


Saya mendukung upaya apapun yang dilakukan Pemda DKI (ataupun Pemerintah Pusat) untuk mengurangi keramaian jalanan Ibukota. Mulai dari pembangunan sistem busway, skema three in one, car free day, rencana pembangunan MRT, implementasi ERP, pembatasan subsidi BBM, hingga wacana pengaturan mobil ganjil-genap khusus di Jakarta.

Busway: at least we try😀

Busway, atau TransJakarta, yang banyak menuai protes pada awal pembangunannya dulu bisa dibilang cukup sukses. Tapi tentu saja saya perlu mengelaborasi sukses di sini. Sebab meski kemacetan Jakarta tidak berkurang (bahkan bertambah di titik-titik tertentu), saya menilai busway berhasil menyediakan moda transportasi yang relatif nyaman dan murah. Jarak tempuh jauh, waktu tempuh cepat, dan pemberhentian yang rapi adalah keunggulan busway di samping murahnya tarif dan armadanya yang bisa dibilang kelas tinggi dibanding kopaja atau bus kota lainnya. Waktu tunggu yang lama sebagai akibat sedikitnya jumlah armada menjadi pe-er buat pengelola untuk memperbaiki di masa mendatang (near future, hoepfully).

Three in one dan car free day sudah jelas terbukti mengurangi jumlah kendaraan secara drastis di jalan-jalan utama yang secara signifikan juga mengurangi emisi GHG (oh! saya nggak tahan untuk nggak menyebutkan ini! :D). MRT (Mass Rapid Transit) yang akan dibangun tahun 2012 dan dijadwalkan akan selesai tahun 2016 dinantikan banyak orang kehadirannya. Banyak yang menyangsikan pembangunan MRT ini. Saya termasuk yang optimis proyek ini akan terlaksana, meski saya pesimis moda yang satu ini akan secara signifikan mengurangi kemacetan.

ERP (Electronic Road Pricing) sudah dibicarakan sejak dua tahun silam dan sampai sekarang masih belum bisa diimplementasikan oleh Pemda DKI karena payung hukum dari Pemerintah Pusat yang “membolehkan” sistem tersebut berlaku di Jakarta masih dalam pembahasan. Bicara soal ERP yang ceritanya menduplikat praktek sukses di Singapura ini, sudah bisa diprediksi akan memancing banyak keberatan dari pengguna jalan baik itu kendaraan roda dua maupun roda empat. Tarif yang dipatok berkisar Rp. 5.000 sampai 20.000 ini dirasa sangat memberatkan banyak pihak khususnya pengusaha kurir.

Pemerintah harus berani dan tegas dan cepat.

Saya lihat Pemerintah kita ini mikirnya kelamaan. Entah mikir beneran atau sibuk berkolusi saya nggak tahu. Padahal mereka punya sumber daya manusia yang bisa dibilang berkualitas. Mereka juga selalu memperkerjakan para kontraktor bertarif tinggi yang pandai dan jago menghasilkan solusi cemerlang. Tapi dalam tahap eksekusi, selalu terlalu banyak rintangan (entah politik entah duit) yang membuat sebuah kebijakan nggak bisa diterapkan. Pemerintah seharusnya lebih berani dan tegas dan bertindak cepat. Memuaskan semua lapisan masyarakat adalah hal yang mustahil. We only have to choose wisely whom to let down. Wajah Jakarta yang ruwet perlu dirawat dengan lebih intensif dan ketat.

Lihat saja penghapusan atau pembatasan subsidi BBM. Gaungnya sudah kemana-mana tapi implementasi masih ragu-ragu. Padahal sudah tampak jelas di depan mata kalau BBM kita harganya terlalu murah. Melindungi kepentingan rakyat? Ah, itu retorika kosong. Bukan kepentingan rakyat yang dilindungi, tapi kepentingan sendiri untuk tetap dianggap bagus di mata rakyat. Harga BBM terlalu murah. Period. No brainer.

Kemudian ada wacana lagi mengenai pembatasan mobil genap-ganjil di mana kendaraan dengan nomor plat genap boleh menggunakan jalan di hari tertentu dan begitu pula dengan kendaraan dengan nomor plat ganjil. Saya cuma bisa berharap kajiannya segera dituntaskan, skemanya segera disusun, dan tentu saja kebijakannya segera diterapkan. Sekali lagi, Pemerintah harus berani dan tegas. Namanya juga Pemerintah, sudah menjadi tugasnya untuk memerintah. Yang nggak mau menurut ya dihukum, as simple as that.

The disgusting Jakarta traffic

Belajar dari negara-negara yang sudah lebih maju, mereka sangat keras dalam membuat dan menerapkan aturan-aturan yang berhubungan dengan jalan raya. Mulai dari proses mendapat SIM yang sangat panjang, susah, mahal, dan tidak bisa “dibeli,” harga BBBM yang bisa dua atau tiga kali lipat harga BBM kita, monitor kecepatan berkendara yang ketat, hingga denda yang selangit untuk urusan kesalahan parkir dan sebagainya. Semua sistem itu berfungsi. Orang takut melanggar karena takut membayar mahal. Uang memang alat kontrol yang efektif.

Keadaannya sungguh bertolak belakang dengan kondisi di negeri tercinta ini di mana SIM bisa dibeli (ya, saya dulu juga beli SIM), harga BBM lebih murah daripada teh botol, kredit sepeda motor yang sangat mudah diperoleh, tidak adanya aturan scrapping untuk kendaraan tua, hingga disiplin berkendara yang minim (akibat dari SIM yang hanya formalitas saja).

Mungkin kita akan sampai ke sana suatu hari ini. Ke sebuah tatanan masyarakat yang terorganisasi dengan baik dan taat aturan. Mungkin kita masih terlalu mudah untuk menjadi bangsa yang maju. Saya cuma berharap ini bukan kutukan bahwa bangsa Indonesia akan selamanya menjadi bangsa kelas dua.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin sekali lagi menuliskan bahwa Pemerintah perlu bertindak berani dan tegas. Itulah pesan utama saya.

2 thoughts on “Jakarta oh Jakarta (2): Terrific Traffic

  1. artikel yg mantap, meski mungkin masih akan susah pengejawantahannya di Jakarta.
    well, saya termasuk salah satu korban kepadatan lalu lintas Jkt. akibat lalu lintas yg makin padat maka saya sampai2 harus kost di Jkt dan meninggalkan keluarga di Serang sana. dulu perjalanan Serang-Jkt paling lama hanya 2 jam, sekarang tidak kurang dari 3 jam waktu yg saya habiskan sekali jalan dari Serang ke Jakarta.
    hanya saja mengenai BBM memang seba salah. saya yakin seyakin2nya inflasi akan meningkat tajam begitu BBM mencapai harga ekonomis. bayangkan harga angkut yg meningkat yg kemudian berefek domino….😥
    what would you say about that?
    mungkin buat kita (saya dan Lia, tentu saja) yg mempunyai penghasilan mencukupi itu hanya akan berefek kecil, but how about the most people out there?
    just correct me if i’m wrong…🙂

    • memang nggak gampang. tapi kalau tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah pegguna jalan, harga BBM yang ekonomis adalah salah satu solusi yang harus dilakukan serentak dengan penambahan jumlah angkutan umum (yang nyaman dan terjangkau). intinya adalah: orang memilih menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s