Teman di Saat Senang


Click here to know some tips on how to be happy for others

Eh, tahu nggak? Kali ini saya ingin menceritakan satu fakta menarik tentang “berbagi kebahagiaan” (duh, saya sebetulnya nggak suka istilah dalam tanda petik itu, tapi nggak menemukan istilah kasual yang pas untuk menceritakan penemuan saya). Masih ingat lirik lagu “Can’t Smile Without You” nggak? Yang ini nih:

You know I feel glad when you’re glad. I feel sad when you’re sad…

Sudah lama saya berusaha merenungi lirik tersebut, dan akhirnya saya menyimpulkan kalau orang yang bisa merasakan hal itu sangat hebat. Setuju? Bayangkan. Berbahagia atas kebahagiaan orang lain! Lebih-lebih kalau kita sedang tidak berbahagia. Betapa hebatnya itu! Seperti kata Simon Cowell dalam salah satu episode American Idol, berbahagia atas kebahagiaan orang lain itu sesuatu yang mustahil.

Ikut senang untuk orang lain atas kebahagiaan mereka adalah hal yang sangat menakjubkan di mata saya. Jujur saja, saya jarang bisa berbahagia 100% atas kebahagiaan orang lain. Biasanya ada sejumlah rasa iri yang menyertai — besar kecilnya tergantung sedekat apa saya dengan orang itu. Misalnya, saya bahagia waktu tahu kakak saya hamil lagi. Tapi ada 10% rasa iri soalnya saya ingin juga punya anak, tapi kawin aja belum. Contoh lainnya… saya ikut senang waktu teman saya dapat beasiswa sekolah di Jerman. Tapi ada 20% rasa iri soalnya Jerman kedengaran keren banget. Dua tahun pula beasiswanya. Saya dulu cuma mendapatkan beasiswa setahun ke Belanda, hehehe. Dan ada contoh-contoh lainnya.

Seorang teman suka menyanyikan lagu tadi dengan lirik pelesetan:

You know I feel sad when you’re glad. I feel glad when you’re sad…😀

Sounds evil but somehow honest, no?

Jadi… sebetulnya lebih gampang mencari teman di saat kita susah. Karena akan ada banyak orang akan yang dengan iba menunjukkan empati, berusaha menghibur, dan mungkin membeberkan banyak kata-kata penyemangat. Sebab pada dasarnya, ketika kita susah, ada perasaan “lega” di hati orang lain bahwa mereka tidak sedang sial seperti kita.

Karenanya, saya justru menilai kualitas seseorang menurut kemampuan mereka untuk ikut senang ketika saya senang. Sebab di sanalah ketulusan bisa terukur dengan lebih akurat. Keluarga (terutama orang tua) adalah orang paling tulus yang bisa ikut berbahagia atas kebahagiaan kita. Cinta mereka tanpa pamrih dan tidak ada batasnya.

7 thoughts on “Teman di Saat Senang

  1. vemiliam says:

    i really like this post.
    ( PS. 50% envy along with 50% compliment.😀 )

    setuju banget, kupikir orang2 yang akan “benar2” berbahagi untuk kita hanyalah keluarga. karena mereka yg terikat darah dengan kita. (ini analisa gampang ku). dan pasangan kita kelak —yg pastinya (akan) terikat darah dengan kita😀

    and look:
    ketika seseorang bilang dia berbahagia untuk lu, take it as it’s all yours.
    u deserve it.
    dan tidak perlu terganggu dengan (berpikir atau memikirkan) rasa iri yang (mungkin) menyertainya (kentara atau tidak, terkatakan atau tidak).
    karena they deserve it as human thing. manusiawi.

    dan aku selalu percaya, rasa iri (atau cemburu) itu bukan sesuatu yang buruk.
    ——mungkin pak marteg akan berkata: rasa iri akan memacu atau menjadi motivasi kita…bla..bla.. :d
    yang berbahaya tuh, kalo level nya adalah sirik🙂

    aku cm ga mau lu akan mengurangi rasa “percaya” lu ketika ada seseorang yg menyatakan “compliment”…. krn kita akan menjadi tidak fair lagi…ahh
    jadi seperti lu akan tetap (bisa) percaya kalo skr aku bilang:
    i really like this post. it has good point.

      • vemiliam says:

        karena aku hampir selalu punya iri untuk setiap keberhasilan seseroang, untuk setiap karya bagus yang tercipta. dsb —-kayak gini: andaikan itu aku ya? harusnya itu aku pembuatnya, dsb

        jadi berikutnya aku ga perlu sebutkan tapi lu sudah tahu ya, setiap aku bilang “like it” or any other compliment, didalamnya sudah berserta rasa iri😀

        angka 50 is nothing.. hehe

  2. I think, nothing special with the lyric from that song.
    It’s just a simple rule.

    I feel glad when you’re glad. I feel sad when you’re sad…

    For example:
    when your-love-to-cook spouse feel glad, s/he will cooks the very delicious food, you eat it, you full, you glad.
    But, when your-love-to-cook spouse feel sad, she stuck on the bed for 10 hours do nothing and let you sturving. and you’re sad, then.

    I think I am on the selfish mode-ON.😀

    • it’s not only about a spouse. but people in general…
      seperti yang saya bilang (dan diamini vemiliam), keluarga dan spouse adalah orang-orang paling tulus yang bisa ikut berbahagia dengan kita.

      begitu mas beni…

      • benisuryadi says:

        hmm, bisa jadi sebenarnya ada tiga lingkaran.

        lingkaran pertama adalah lingkaran keluarga (orang tua, anak, saudara, dan juga pasangan) yang tulus berbahagia akan kebahagiaan kita, vice versa.

        lingkaran kedua, orang yang kita kenal sehari-hari, berinteraksi (entah itu sahabat, rekan kerja, dll). orang-orang di lingkaran kedua inilah yang sangat berpotensi untuk memiliki rasa berbahagia dan iri dalam satu paket.

        namun, lingkaran ketiga, orang yang sama sekali jauh di luar lingkaran tokoh utamanya. misalnya ketika Pangeran W kawin sama K, jutaan orang larut dalam kebahagiaan mereka. Irikah mereka? Sebagian mungkin ya, tetapi sebagian lagi begitu tulus mengungkapkannya. Atau contoh lazim adalah si A dan Messi si pemain bola, kejayaan messi memenangkan berbagai kejuaraan membuat si A sang penggemar merasakan kebahagian yang begitu dalam tanpa ada rasa iri.

        Sekian dan terimakasih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s