Jakarta oh Jakarta (1)


Itu aku lihat banyak wajah capek di balik kaca jendela bus kota. Membuat aku bertanya-tanya.

Kenapa datang jauh-jauh ke Jakarta kalau bikin wajah jadi cepat tua?

Soalnya di Jakarta banyak duitnya. Di kampung, duitnya nggak seberapa, di Jakarta bisa jadi jutawan.

Percuma jadi jutawan. Ongkos hidup juga mahal.

Tapi hidup di Jakarta sangat menantang. Memaksa diri mengeluarkan semua kemampuan.

Tidak semua jadi jutawan. Meski semua sudah mengerahkan segenap kemampuan.

Aku tahu. Itu aku lihat pengamen dengan gitar dan biola. Memainkan lagu klasik yang sering kudengar tapi aku nggak tahu apa judulnya. Mereka bukan jutawan.

Kenapa mereka juga hijrah ke Jakarta?

Sebab di kampung tak ada yang yang mau mendengar musik klasik lewat gitar dan biola. Dan di kampung juga tak ada bus kota.

Lalu Pak Sopir yang orang Batak itu?

Ada apa dengan Pak Sopir yang orang Batak? Jangan kau percaya stereotipe sopir Batak suka menyerobot. Hidup di Jakarta nggak mudah. Kalau nggak menyerobot bisa kehilangan kesempatan menambah pemasukan dua ribu perak.

Oh, dua ribu perak!

Aku tahu maksudmu. Ongkos makan siangku bisa sepuluh kali lipat itu. Bisa juga dua puluh kali lipat. Aku jutawan. Aku makan makanan mahal.

Lalu perempuan muda di sampingmu itu?

Oh, dia baru melahirkan anak pertamanya. Lihat itu dadanya basah oleh ASI yang nggak terminum si bayi karena dia mesti balik kerja lagi.

Lalu lelaki paruh baya di arah jam dua itu?

Oh, dia seumuran Bapakku di kampung. Tapi Bapakku lebih sehat dan berwajah gembira. Tidak seperti dia yang lelah. Bekerja ekstra keras tapi tak sebanding dengan upahnya. Aku lihat kerut-kerut di wajahnya yang coklat. Aku lihat keringat muncul malu-malu di pelipis dan lehernya.

Dan kamu?

Aku menoleh sedikit ke arah kaca bus kota yang mulai tersendat jalannya. Ah, aku tidak tampak selelah mereka. Belum nampak banyak kerut di wajah mudaku. Masih ada samar binar harapan di mataku. Masa depan masih jauh terbentang.

Bakrie! Bakrie!

Oh, aku harus turun di sini…

 

13 thoughts on “Jakarta oh Jakarta (1)

  1. cerita ironi (hidup di) jakarta memang selalu menarik —-nah, ini ironi jg😀

    salah satu yg jd fave gw, waktu terakhir kali jakarta mengalami hujan deras hampir sepanjang hari, dengan curah yg besar, sebentar saja di sorenya sudah bikin banjir di mana-mana, yg artinya jalanan macet tingkat tinggi.
    semua orang mengalami perjuangan yang sangat berat untuk sampai dirumah masing2, yang rata-rata —dari cerita keesokan harinya—menempuh minimal 5 jam!
    (salut gw buat semua yang melewatinya)

    besok pagi itu pula, diantara semua yg saling bercerita ttg perjuangannya sendiri, langsung tersebar lewat internet, poster bergambar Foke (dengan wajah berkumis yang sumringah khasnya) dan tulisan disampingnya:
    “hallo sobat jakarta, gimana semalam? masih betah tinggal di ibukota?”

    Wakakakakakaka
    *ngakak tanpa ngaca*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s