Sudah Biasa


Banyak sekali yang terjadi belakangan ini. Banyak sekali yang  ingin ditulis. Tapi banyak sekali yang harus dilakukan sehingga tidak ada energi dan waktu cukup untuk bercerita. Syukurlah saya ada waktu malam ini. Saya tergelitik untuk menulis topik ini setelah mendengar obrolan di TV tentang banyaknya kejadian mengkhawatirkan yang dianggap dan dikomentari dengan ringan: sudah biasa.

Teror bom. Sudah biasa. Ya, katanya ini bukan hal baru, hanya medianya saja yang baru.

Banjir di jalan-jalan utama. Sudah biasa. Jakarta selalu kebanjiran kalau hujan turun dengan sangat deras.

Papan reklame roboh. Sudah biasa. Hujan badai dan angin kencang akan selalu menimbulkan korban.

Perempuan jadi makhluk kelas dua. Sudah biasa. Kemampuan perempuan selalu dianggap lebih rendah dari laki-laki.

Gempa bumi. Sudah biasa. Kondisi geografis memang menjadikan negeri ini rawan pergeseran.

Gunung meletus. Sebagai negara dengan gunung berapi terbanyak di dunia, menghadapi teror volkano sudah biasa.

Kopaja yang bermanuver seperti roller coaster demi mengejar sebanyak mungkin penumpang. Sudah biasa.

Polusi, korupsi, lambatnya birokrasi, rendahnya penghargaan untuk pekerja pribumi, pemujaan yang berlebihan pada orang asing, buang sampah di jalan, meludah sembarangan, nggak tertib dalam antrian, menyiuli perempuan, mengemis, mencopet… semua sudah biasa.

Benarkah kita ditakdirkan menjadi bangsa yang mahir nrimo saja? Benarkah kita dianugerahi kemampuan lebih untuk bertahan dan bukannya melawan? Adaptasi memang mutlak diperlukan. Tapi berdiam diri dan ikut hanyut dalam segala situasi jelas tidak akan membawa kita ke keadaan yang lebih baik, kan?

Saya ingin marah, tapi nggak tahu mau marah pada siapa. Pada teroris yang menyebar bom? Pada pemerintah yang nggak bisa menjamin rasa aman? Pada koruptor? Pada pengemis? Pada lelaki-lelaki iseng? Pada sopir kopaja ugal-ugalan? Pada orang-orang jorok yang meludah seenaknya di jalanan? Pada bule-bule yang mencari nafkah di sini dengan bayaran tinggi tapi nggak bayar pajak? Pada negara yang mengambil banyak dari gaji saya? Pada aparat pemerintah yang malas bekerja?

Feels like everything is just fubar.

4 thoughts on “Sudah Biasa

  1. beneran semua itu dikomentari “sudah biasa” atau lu membantu menambah rangkumannya? jadi penasaran acara apa itu..
    since eventually this post isnt my fave one.
    here u’re being skeptic-pesimistic whilst i believe u cud have better ways of (sarcastism) critic.
    since u’re a strong writing and this possibly allows reader to ascribe ur perception get true.
    and u can remain me back when it happens on my post :D)

    btw, adaptasi itu bukan berarti nrimo. [hal yg kutangkap dari 2 kalimat terakhir di paragraf ke-2 terakhir🙂]
    adaptasi itu kemampuan untuk bertahan, dan melawan (suatu keadaan yg tidak baik) itu salah satu bagian dr adaptasi.
    jadi aku setuju kalo kita mari melawan, menyalahkan, dan menghukum orang2/sistem/peraturan yang merugikan banyak pihak.

    • nggak semua. yang dikomentari di tv udah biasa cuma masalah banjir dan bom. komen lain dari obrolan2 kasual. setuju soal adaptasi itu bukan sekadar nrimo. tapi melawan juga bukan padanan yang pas. adaptasi itu lebih ke arah preventif, mengurangi efek-efek buruk dari sebuah keadaan yang destruktif. ah, kenapa nulis pake bahasa sok susah gini😀

  2. Tulisan yang apik.. mmg tidak mudah merubah keadaan dimana tradisi dan norma normanya sudah begitu.. perlu ada gebrakan ektrim. KATA kuncinya dari cara dan pola pikir… juga mental mau instant dan mau asal harus tidak ada lagi… MULAI DARI LINGKUNGAN KITA.. Bisa ndak..????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s