PLTN: Siapkah Kita?


Jika harus menjawab dengan jawaban pendek antara ya dan tidak, saya akan menjawab: tidak. Saya mengerti betul akan ada (banyak) orang yang tidak setuju dengan pendapat saya, meski akan ada banyak juga yang akan setuju. Tapi sudah saatnya saya memijakkan kaki di salah satu blok dan tidak berdiri di tengah-tengah, bersikap netral, non-blok, atau kasarnya: tidak berpendirianūüôā.

Saya sudah lama memikirkan soal PLTN ini dan¬†menimbang-nimbang di mana saya harus berpijak. PLTN sangat menggiurkan. Energi yang dibangkitkan sangat melimpah dengan bahan dasar sangat sedikit. Namun peristiwa di Fukushima, Jepang membuat saya jadi lebih mudah memutuskan kalau sebetulnya kita tidak siap. Yang saya maksud dengan “kita” adalah bangsa Indonesia. Puh, terkesan meremehkan sarjana-sarjana negeri yang pintar-pintar? Terkesan¬†memandang rendah kemampuan sendiri? Bukan. Sebetulnya concern saya bukan di masalah kemampuan dan penguasaan teknologi, melainkan lebih ke behaviour. Kita ini bangsa yang careless, teledor, mengecilkan hal-hal yang besar. Orang Jepang yang¬†berdisiplin sangat tinggi saja kelimpungan menghadapi bencana¬†nuklir mereka, bagaimana dengan orang Indonesia yang ¬†lebih sering tidak mengindahkan aturan?

Sebuah celetukan membuat saya tersenyum miris: “Gimana nggak khawatir? Tabung LPG saja meledak!” (tapi mari kita nggak membahas kalau sebetulnya bukan tabungnya yang meledak, tapi hanya selangnya saja yang bocor).

Masalah PLTN ini kembali panas diperbincangkan setelah peristiwa Fukushima. Berbagai tulisan pro dan kontra atas¬†PLTN semakin marak memenuhi inbox email saya. Yang pro masih pantang menyerah mengemukakan fakta dan statistik yang menarik, sementara yang kontra dengan gembira menjadikan kasus terbaru di Fukushima sebagai pelajaran berharga sebelum “bermain-main” dengan nuklir.

Kenapa harus PLTN?

Saat ini sudah ada sekitar 440 PLTN di 30 negara di dunia yang menggantungkan seperempat energinya pada nuklir. Ada beberapa alasan mengapa negara-negara tersebut melirik penggunaan nuklir sebagai pembangkit energi. Pertama, sebab PLTN menghasilkan energi terbesar dengan biaya terkecil atau singkatnya disebut: cost-effective. Sebuah penelitian di Paris tahun 1982 menyimpulkan bahwa untuk membangkitkan 5.000 kWh energi diperlukan sekitar 1,1 juta ton minyak bumi, 1,65 juta ton batu bara, dan hanya 20 gram uranium alam. Dibanding batu bara dan gas alam, biaya pembangkitan energi dari nuklir relatif lebih rendah per kWh-nya. DI samping itu, PLTN juga dipercaya sangat bersih dibanding pembangkit listrik konvensial berbahan bakar fosil.

Lebih jauh, para pendukung PLTN membuka fakta-fakta tidak relevan seperti: kecelakaan mobil membunuh lebih banyak orang dalam setahun dibanding kecelakaan yang melibatkan PLTN, kecelakaan nuklir terbesar di Chernobyl hanya menyebabkan segelintir saja korban meninggal, serta fakta bahwa pembangkit tenaga batubara lebih banyak menyebabkan kematian di lokasi serta memicu serangan jantung dan penyakit paru-paru dengan angka signifikan. Macam-macam pokoknya. Kita dibombardir banyak sekali fakta yang memihak PLTN.

Boleh PLTN asal…

NIMBY (not in my back yard). Ya, boleh membangun PLTN asal jauh-jauh dari tempat tinggal saya. Tidak ada yang dengan senang hati menerima kehadiran PLTN di dekat tempat tinggal mereka. Logika yang sama dengan resistensi menerima pembangunan tempat pembuangan akhir sampah.

Ada yang mengkritik kenapa warga Jabodetabek sebagai pengguna energi terbesar tidak mau menerima PLTN dibangun di sekitar sana. Padahal studi menyebutkan bahwa bagian utara  Banten (Kalimantan dan Bangka Belitung) memiliki potensi gempa sangat rendah. Yang  resisten ini berpendapat bahwa menempatkan PLTN di Jabodetabek terlalu berisiko secara politis seandainya terjadi apa-apa di atas PLTN tersebut. Yang lain sewot dan lalu mengambil analogi semacam: hampir semua pilot project dilakukan di Jakarta, kenapa nggak demikian dengan PLTN?

Kenapa tidak harus PLTN?

Saya sudah baca banyak literatur yang mengatakan kalau PLTN ini bisa membangkitkan energi paling cost-effective, paling bersih, dan ramah lingkungan sebab nggak ada limbahnya. Itu tidak sepenuhnya benar, sebab sampah radioaktif masih “dibuang begitu saja” (tentu saja dengan pengamanan ekstra ketat pula).

Saya akan lebih tenang kalau Indonesia menyasar sumber energi terbarukan yang relatif lebih “aman” dan berisiko lebih kecil. Masih ada panas bumi (geothermal), surya (solar), angin (wind), dan air (hydro). Geothermal saat ini sedang sangat populer. Berbagai statistik menyebutkan potensi panas bumi di perut Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Macam-macam statistiknya. Ada yang mengklaim kita di urutan pertama, kedua, keempat, dan lain sebagainya. Namun nyatanya, geothermal belum menjadi primadona pembangkitan energi di Indonesia. We’re going there, begitu kata penguasa negeri.

Tenaga surya juga bukan ide buruk. Kita punya iklim tropis dengan matahari melimpah, meski banyak yang menyangsikan karena cuaca yang nggak menentu, sering mendung… ah, itu alasan orang malas (dan nggak punya banyak uang). Sungguh malu mengetahui kalau saat ini Jerman dan Spanyol menjadi produsen energi dari tenaga surya terbesar di dunia. Ya! Jerman yang berlangit muram itu!

Jadi ada apa sebenarnya dengan negeri kita yang punya semua potensi sumber energi, baik yang fosil maupun yang terbarukan? Benarkah kita sekaya itu? Dan… benarkah kita sepintar itu?

Studi kelayakan yang menyeluruh hingga ke segi politik, sosial, dan security (termasuk mempertimbangkan faktor terorisme) perlu terus dilakukan. Saya tidak akan memandang sebelah mata BATAN dan komunitas yang percaya akan kebaikan PLTN bagi kelangsungan ketersediaan energi di Indonesia. Namun mari menyadari kalau masyarakat perlu diyakinkan bahwa PLTN memang aman dan tidak seseram yang dibayangkan, kalau PLTN punya kode-kode keselamatan yang sangat ketat dan diawasi dengan ketat pula oleh IAEA¬† (International Atomic Energy Agency).¬†Sayangnya, pekerjaan meyakinkan orang bukanlah pekerjaan¬†mudah¬†:-). Buktinya… saya yang sudah membaca begitu banyak “keindahan” PLTN saja masih skeptis pada kemampuan bangsa kita mengelola sebuah PLTN.

Jadi… hanya begitu saja argumen saya mengenai PLTN.

—-

Fun facts:
– Saat ini Indonesia punya 3 reaktor untuk riset (research reactor)
– Indonesia sudah mengusulkan pembangunan 2 PLTN pada tahun 2004
– Dalam blueprint pengelolaan energi nasional 2005 – 2025, batubara masih akan menjadi mayoritas sumber energi (32%), sementara nuklir akan menyumbang 2% dari total pembangkitan energi
РRisiko tertinggi akan radiasi kebocoran nuklir dengan skala 10 Sv bisa menyebabkan 10.000 kematian langsung (instant death)
– Setahun setelah peristiwa Chernobyl, radiasi di sekitar lokasi tersebut sekitar 50 mSv)

—–

Tulisan ini merangkum tulisan dari berbagai sumber seperti:

PLTN di Indonesia (oleh: Bambang Eko Afiatno)
Candles Kill Many More than Nuclear Power
http://en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_and_radiation_accidents
http://en.wikipedia.org/wiki/Chernobyl_disaster
http://en.wikipedia.org/wiki/Cost_of_electricity_by_source
http://www.icjt.org/an/tech/jesvet/jesvet.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Fukushima_I_nuclear_accidents
http://www.itb.ac.id/news/3154.xhtml

5 thoughts on “PLTN: Siapkah Kita?

  1. oia, dulu pernah dpt teman sebangku di kereta, seorang bapak yg kerja di (aku lupa, mungkin pertamina).
    dia bicara soal geothermal yg sangat potensial dilakukan di indonesia krn kondisi alamnya. dan katanya, itu yg sedang dirintis oleh pemerintah skr (SBY) meski dia bilang sangat telat kok baru sekarang.

    till i got ur post here,
    jika pemerintah itu tidak bodoh alias (aku percaya) banyak orang/sarjana pintar di dalamnya, kenapa mereka masih “meributkan” PLTN kalo kita (beruntung) punya potensi untuk geothermal energy?
    apakah (ini pertanyaanku sbg ga melek energi), biaya nya masih tidak se-cost effective si PLTN? seberapa lebih besarnya jika dibandingkan dengan resiko yg dihasilkan?

    • ya ampun… aku ternyata belum komen balik di komen iniūüôā.

      pemerintah sebagai entity itu bodoh, meskipun di dalamnya terdapat banyak sekali sarjana pintarūüôā. geothermal memang sedang dikembangkan dengan gencar, tapi tentu pemerintah ingin diversifikasi energi tetap jalan. nggak cuma geothermal, atau biofuel yang dulu sempat ngetrend itu, tapi juga PLTN yang menurut itungan di atas kertas paling bisa menyediakan energi dalam jumlah fantastis.

  2. aldi says:

    kita kaya sumber daya sih dongeng sejak jaman SD, kenyataannya setengah mati cari cadangan migas baru.
    aku ga ambil posisi pro atau kontra, just trying to act as devil advocate, seberapa besar persentase kecelakaan PLTN dibanding pembangkit lain?berapa besar yg pure karena kecerobohan?aku ga terlalu ngikutin, tapi klo ga ada gempa PLTN Jepang ga meledak kan?Karena hal2 yg di luar kontrol dimana2 pasti ada.
    Btw klo PLTN di jawa mungkin bisa ngurangin populasiūüėÄ

    • nggak ambil posisi pro ataupun kontra itu kayak orang agnostikūüôā.
      semua posisi selalu punya daftar pro dan cons. menginstal PLTN ada bagusnya, ada jeleknya. demikian juga dengan tidak menginstal PLTN. pada akhirnya pemerintah nanti yang memegang palu untuk memutuskan. para ahli hanya bisa sebatar memberi semua hasil analisis keilmuannya.

      betul banget orang kita direcoki terlalu banyak dongeng tentang sumber daya yang kaya. tapi kita tidak disadarkan kalau sumber daya alam yang kaya itu ternyata sia-sia saja tanpa sumber daya manusia yang berkualitas. our people are generally lazy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s