Secuil Sejarah Pembangunan Jakarta 1


* Tulisan ini dicopas (lalu diedit sedikiiit) dari http://alifuru.tripod.com/jakarta/ts_ibukota.htm. Sayangnya saya nggak bisa nemu nama penulisnya. Tulisan ini akan dibagi dalam dua edisi karena pertimbangan panjang🙂. Saya suka banget dengan sejarah yang ringkas semacam ini. Tulisan dengan font warna biru adalah komentar nggak penting saya, hehe.

—–

SEBELUM 1970

Di tengah Perang Dunia II, Maret 1942, Jepang masuk ke Pulau Jawa dan sama sekali menghentikan pembangunan Batavia. Walaupun, dalam rangka propaganda, tantara Dai Nippon mengganti nama Batavia menjadi Djakarta Toko Betsu Shi, serta menghancurkan patung JP Coen di Waterlooplein (di Belanda banyak nih Waterlooplein).

Untuk lebih mengukuhkan propagandanya, Jepang juga menempatkan seorang Wakil Walikota Djakarta Toko Betsu Shi, yakni Soewirjo. Sementara itu, Walikotanya diambil dari orang Jepang. Monumen Proklamator Bangsa Indonesia Soekarno-Hatta di Jl. Pegangsaan Timur No. 56.

Penguasaan yang tidak lama ini ternyata menimbulkan sangat banyak kerusakan, hampir semua bangunan indah dan hotel dijadikan barak tentara yang tidak terawat. Sampai kemudian, 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta, atas nama bangsa Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur (Proklamasi) No. 56 memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Monumen Proklamator Indonesia Soekarno-Hatta

Satu bulan kemudian, tidak kurang dari 300.000 orang berkumpul di Lapangan Ikada (Taman Medan Merdeka), 19 September 1945. Hebatnya, massa sebanyak itu datang berkumpul berkat berita dari mulut ke mulut (kalau zaman itu udah ada facebook atau twitter…). Sebenarnya rapat direncanakan tanggal 17 September, tepat satu bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan. Namun karena ada ancaman tentara Jepang dan Sekutu, rapat raksasa di Lapangan Ikada diundur menjadi 19 September. Setelah Rapat Raksasa di Lapangan Ikada itu, menurut sejarawan Uka Tjandrasasmita, rakyat Surabaya bergelora pada 10 November 1945, demikian juga perlawanan pada penjajah terus menyebar di seluruh negeri.

Namun Belanda, yang membonceng tentara Sekutu (NICA) tidak pernah mengakui proklamasi tersebut hingga Desember 1949. Karena itu pecahlah Perang Kemerdekaan. Hanya saja, perang ini tidaklah berlangsung di Batavia. Yogyakarta, tempat di mana Soekarno, Hatta dan beberapa pejabat tinggi lainnya dan keluarga mereka bemukim dan dijadikan Ibukota Republik yang baru lahir itu sejak kepergian mereka dari Batavia pada 4 Januari 1946.

Oleh sebab itu, pemerintah pendudukan pun kembali menata dan merencanakan sebuah pemekaran Batavia. Rencana pemekaran kota ini ke wilayah sebelah selatan lapangan Merdeka, kira-kira 8 kilometer. Wilayah itu sendiri sebelumnya telah disurvey dengan maksud untuk membuat lapangan terbang internasional yang baru untuk menggantikan lapangan terbang Kemayoran (didirikan menjelang Perang Dunia II) yang ternyata menjadi penghalang pemekaran kota ke arah timur. Wilayah yang dimaksud adalah Kebayoran seluas 730 Ha, yang dapat dihubungkan dengan jalan raya bagi kendaraan bermotor. Daerah yang diproyeksikan bagi perumahan itu bersinggungan tepinya dengan jalan Kereta Api Tanah Abang – Serpong, yang dapat mempermudah pengangkutan bahan-bahan bangunan.

Rencana pertama pembangunan kota itu diserahkan pada M.Soesilo, seorang insinyur praktek pada Centeral Planologisch Bureau (Biro Pusat Planologi). Dan sejak itu pula, dikenal istilah Kota Satelit Kebayoran. Pada Februari 1949 rencana kota Kebayoran selesai. Pembuatan jalan-jalan dan persiapan tanah-tanah perumahan mulai berjalan dengan sistematis. Pada 18 Maret 1949, dimulailah peletakan batu pertama. Dan, setahun kemudian terjadilah perubahan-perubahan sebagai berikut: 150 Ha tanah untuk perumahan telah dibuka; 1.000.000 m2 jalur jalan tanah telah disiapkan; 42 km luas jalan telah dikeraskan dengan aspal; 17 km saluran pipa-pipa air minum telah dipasang; 7 titik sumur bor telah dibuat; 2.050 unit perumahan telah selesai dibangun dari rencana sebanyak 2.700 unit. Tanah seluas 730 Ha itu dibagi untuk keperluan perumahan rakyat (152 Ha); perumahan sedang (69,8 Ha); villa (55,1 Ha); bangunan-bangunan istimewa (75,2 Ha); Flat (6,6 Ha); toko dan kios (17 Ha); industri (20,9 Ha); taman-taman (118,4 Ha); jalan-jalan (181,5 Ha) dan sawah-sawah di pinggiran (33 Ha). Semua itu dimaksudkan untuk memberi tempat kediaman bagi 100.000 penduduk (100.000 penduduk! oh dear!).

Kemudian, Desember 1949, pemerintah Republik Indonesia kembali ke Jakarta, dan Jakarta kembali dijadikan ibukota negara. Hal ini mengakibatkan makin meningkatnya kebutuhan kantor dan perumahan. Selain itu, jumlah penduduknya pun mengalami pemekaran luar biasa akibat Jakarta juga berkembang sebagai kota industri dan perdagangan.

Konsekuensinya, pada awal 1952 tercatat adanya pembukaan tanah-tanah liar dengan gubuk-gubuknya di seantero Jakarta. Menurut taksiran kala itu, sekurangnya terdapat 30.000 gubuk liar yang dihuni para pendatang baru. Selain itu, juga terdapat 46 macam bangsa asing yang berdiam di Jakarta, belum termasuk bangsa Indonesia sendiri. Menurut catatan, pada periode 1948-1951, terdapat surplus penduduk di Jakarta rata-rata 118.563 orang tiap tahunnya. Sementara itu, Rencana Induk DKI Jakarta 1965-1985 menghitung, rata-rata pertambahan penduduk Jakarta 124.000 orang per tahun (ini nggak bener… pertumbuhan penduduk seharusnya mengikuti deret ukur).

Oleh sebab itu, pada 1953 muncul suatu gagasan bahwa proyeksi Jakarta masa datang akan menjadi 16.200 Ha, dan akan dibatasi oleh suatu jalan lingkar luar, yang juga dimaksudkan sebagai perluasan kota tahap berikutnya. Dari gagasan ini, kemudian muncul Jakarta By-Pass di sebelah timur.

Sejak 1959, perkembangan ibukota menjadi bagian politik mercu suar yang bertujuan membuat RI sebagai inti dari The New Emerging Force (Kekuatan Baru yang sedang Tumbuh) di dunia. Sukses-sukses sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955) menjadikan Jakarta sebagai pusat penyelenggaraan Asian Games IV (Pesta Olahraga se Asia) pada tahun 1962, kemudian menyusul Games of The New Emerging Forces (GANEFO) pada tahun 1963.

Jakarta sebagai The New Emerging Force di dunia

Semua itu disertai oleh pembangunan jalan-jalan besar, hotel-hotel mewah, toko serba ada, Jembatan Semanggi dan Komplek Asian Games di Senayan (Gelora Bung Karno), Gedung Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) yang kini menjadi gedung DPR/MPR. Sementara itu, di sisi ujung Jl. MH Thamrin dibangunlah gedung Bank Indonesia (1957); gedung kantor PT pembangunan Perumahan (1959); Hotel Indonesia (diresmikan 5 Agustus 1962); Monumen Nasional (17 Agustus 1961) dan seminggu kemudian dibangun Masjid Istiqlal. Tahun 1962, Presiden Soekarno merestui pembangunan gedung kantor pusat Bank Dagang Negara (BDN), menyusul kemudian gedung toko serba ada pertama di Indonesia, Sarinah (1963).

Sampai kemudian, munculah tragedi 1965 yang menjadi noktah hitam dalam kesejarahan Indonesia. Kala itu ketimpangan dan kemiskinan penduduk Jakarta menjadi warna yang sangat dominan. Dalam memoarnya, Ali Sadikin mencatat bahwa di awal tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta (1966-1977) penduduk Jakarta telah mencapai 3,6 juta jiwa. Tercatat kurang lebih 60 persennya tinggal di perkampungan sangat padat dan kumuh. Di banyak daerah, kepadatannya berkisar antara 4.000 hingga 6.000 jiwa per kilometer persegi. Kemacetan lalu lintas terjadi pada jaringan jalan-jalan yang sangat terbatas. Telekomunikasi baru mampu melayani 26.000 pesawat (dan sekarang hampir semua orang bawa handphone). Listrik hanya mampu memenuhi 13 persen kebutuhan kota (sekarang tingkat elektrifikasi Jakarta sudah 100%). Sementara air minum, baru memenuhi 12,5 penduduk kota.

(bersambung)

 

2 thoughts on “Secuil Sejarah Pembangunan Jakarta 1

  1. Yang dimaksud dengan mulut ke mulut jaman dulu adalah via siaran radio yang jadi (satu2nya) media utama dan “efektif” (seperti halnya sekarang fb/twitter)…dan maka RRI semestinya disebutkan sebagai salah satu andil besar pada jaman tsb

    Di suatu majalah (yg dibaca di lobby Solaria Setiabudi 1), ada artikel tentang gurbenur DKI Jakarta beserta pembangunan2 pada masanya. Menarik untuk tahu bahwa gurbenur pertamanya adalah orang wonogiri😀
    Tambahan link, http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/04/01/nrs,20040401-01,id.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s