Kebebasan


Kebebasan main ayunan dengan telanjang🙂

Semua orang sebenarnya memang haus kebebasan. Ingin bebas melakukan apapun yang diinginkan, bebas memilih apapun, bebas bicara, bebas melihat, bebas mendengar, pokoknya bebas semuanya. Bukti gampangnya: banyak penjahat yang mati-matian berusaha keluar dari jeruji besi dengan cara apapun sebab… terkungkung sama sekali bukan hal yang menyenangkan.

Sayangnya kebebasan bukan sesuatu yang mutlak. Setiap orang nggak bisa seratus persen memenuhi kebebasannya karena akan terbatasi oleh keberadaan orang lain. Karena itulah peraturan dibuat. Peraturan ada untuk membatasi jangan sampai kebebasan individu bersifat semena-mena sehingga merugikan kemaslahatan orang banyak. Peraturan berfungsi untuk melindungi kepentingan tiap individu.

Istilah “pergaulan bebas” yang sudah lama dikenal secara luas adalah cerminan bagaimana masyarakat melabeli orang-orang yang nggak mau berperilaku dalam “kotak” aturan yang ada. Mereka ini dianggap sebagai orang-orang yang melanggar garis-garis aturan demi mengejar kebebasan. Mereka nggak mau mengikuti batasan-batasan yang menghalangi gerak mereka untuk melakukan segala yang diinginkan.

Beberapa hari lalu saya terlibat lima belas menit obrolan dengan seorang sopir taksi membuat saya tergerak menulis postingan ini. Saya dibuat tertegun atas kata-kata di pak sopir bernama Surono itu. Dia bercerita kalau dia sudah menjadi sopir taksi burung biru selama dua belas tahun. Saya tanya kenapa kok betah kerja di sana. Bukannya taksi bluebird memakai sistem komisi yang oleh banyak sopir dianggap tidak menguntungkan? Dia bilang: “Sebab begini lebih tenang. Nggak perlu tertekan dengan setoran wajib.” Lalu dia bercerita soal anaknya yang jadi sopir seorang direktur. Lalu saya tanya apa dia nggak kepingin jadi sopir pribadi saja. Dia menjawab: “Saya pernah jadi sopir pribadi selama lima belas tahun. Penghasilan memang lebih banyak, tapi saya merasa nggak bebas. Selalu disuruh-suruh, sering dimarahi kalau memilih rute yang nggak berkenan di hati majikan.” Belum reda ketertegunan saya, dia menambahkan: “Jadi sopir taksi lebih bebas. Saya bisa kerja sesuai kemauan saya.”

There!

Bukan cuma saya yang suntuk dengan jeratan pendapat bos yang haus untuk di-iya-kan. Bukan cuma saya yang nggak betah dengan perintah-perintah yang nggak sesuai dengan kreativitas. Selama saya masih bekerja untuk orang, selama itu pula saya nggak bebas. Jadi, boleh kan kalau saya menyimpulkan bahwa siapapun itu, apapun profesinya, semuanya sangat haus akan kebebasan? Hehe… tentu saja boleh. Kita kan hidup di negara yang sekarang sudah menjunjung tinggi kebebasan berpendapat.

Jadi mari bermain-main sejenak dengan kebebasan.

Kebebasan adalah menutup mata atas rambu-rambu. Kebebasan adalah mencopot speedometer dan memacu kendaraan sekencang yang diinginkan. Kebebasan adalah mengutarakan pikiran dengan terbuka. Kebebasan adalah berkreasi. Kebebasan adalah mendengarkan dan mengikuti insting. Kebebasan adalah mempercayai yang ingin dipercayai. Kebebasan adalah tidak harus selalu mengikuti apa kata orang. Kebebasan adalah merasa aman. Dan tentu saja, kebebasan adalah ketika bisa tidur tanpa mengatur alarm dan bangun ketika tubuh secara alami memutuskan untuk bangun🙂.

One thought on “Kebebasan

  1. Pingback: Freedom | Amalia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s