10 Dosa Sinetron


Saya sudah tidak bisa menahannya lagi! Ini harus segera ditumpahkan sebab kalau tidak, ini bisa menjadi kanker ganas!

He he he… Saya seratus persen yakin kalau sebetulnya banyak juga yang sudah nggak betah untuk berdiam diri menyaksikan sinetron yang semakin menggila itu. Nggak perlu lah saya sebutkan sinetron apa saja, di stasiun TV mana saja, dan lain sebagainya. Sebab kita sama-sama tahu🙂.

Meski sinetron (atau dikenal juga sebagai soap opera) ini memang dimaksudkan untuk menjual drama yang mendayu-dayu, saya menilai tontonan ini semakin nggak fokus untuk memberikan tontonan yang berkualtis. Tanpa perlu ba-bi-bu lagi, ini dia 10 Dosa Sinteron versi Amalia:

1. Hubungan darah yang rumit. Andi bukan bapak kandung Beti. Cyntia membuang anaknya dua puluh tahun silam. Dinar dianggap sebagai anak Elisa, padahal sebetulnya anak kandungnya adalah Fitri. Gunawan menikah lagi dengan Hesti tapi anaknya tertukar dengan anak Indri… dan lain sebagainya. Hubungan darah menjadi tema yang belakangan ini menjadi-jadi. Seolah nggak ada lagi cerita lain yang bisa menghidupkan sinetron. Konflik hubungan darah menjadi formula andalan untuk menjaga kelangsungan sinetron (baca: jumlah episode yang fantastis).

2. Kecelakaan yang klise. Kalau ada adegan kecelakaan, selalu saja melibatkan orang yang itu-itu saja. Jefri menabrak Kinanti di sebuah jalan sepi yang pas banget dua karakter itu sedang berada di sana. Lalu Kinanti pingsan telentang di depan mobil dengan luka berdarah di kening, padahal yang ketabrak perutnya.

3. Jeritan dan tangisan tiada akhir. Tokoh antagonis selalu digambarkan doyan menjerit dan berteriak marah sementara tokoh protagonis adalah gudang airmata yang nggak ada habisnya. Cerita nggak lagi solid dan dua emosi ini menjadi andalan untuk mengikat penonton tetap setia.

4. Tindakan kriminal yang kejam. Penculikan, kecelakaan yang direncana, pengeroyokan, meracuni minuman, hingga mencabut alat penyokong hidup di rumah sakit adalah tindakan kriminal paling lazim ditunjukkan di sinetron-sinetron.

5. Jatuh dan tangkap. Si tokoh perempuan sering digambarkan suka tiba-tiba jatuh, kesandung, kepleset, kecebur,  dan sebagainya, lalu akan ada tokoh laki-laki yang dengan sigap menangkap dan melakukan tindakan penyelamatan. Pola yang sama dengan ksatria berbaju baja dengan pedang dan kuda putih yang menyelamatkan seorang putri dari naga atau nenek sihir.

6. Kejar-kejaran. Meski dalam kehidupan normal kita paling sering berlari mengejar bus atau jadwal kereta, sinetron suka sekali menampilkan adegan kejar-kejaran antar manusia. Ya, masih. Dan kejar-kejaran itu akan dibuat dramatis dengan berbagai rintangan di antaranya.

7. Dialog yang lebay. Pernahkah seseorang mengatakan “aku sangat mencintaimu dengan sepenuh hati” di kehidupan nyata? Saya yakin tidak. Yang lebih wajar adalah “aku cinta banget sama kamu” atau “i love you so much.” Dan itupun bukan ucapan sehari-hari yang kasual. Tapi toh dialog semacam itu sangat sering diucapkan dalam sinetron.

8. Mobil dan rumah mewah. Sinetron selalu menampilkan keluarga kaya ekstrim. Tinggal di rumah mirip istana, mobil mewah, punya perusahaan besar (tapi nggak pernah menceritakan perusahaan apa itu, bisnis apa yang dilakukan), dan bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan uang: melunasi operasi besar di rumah sakit, mengeluarkan seseorang dari penjara, hingga menyewa pembunuh bayaran. Oya, nggak lupa saya ingatkan bagaimana mereka selalu berpakaian indah (plus high heels) meski sedang ada di rumah.

9. Orang miskin yang rupawan. Selain keluarga sangat kaya, sinteron juga merasa perlu menjaga keseimbangan dengan menampilkan keluarga miskin yang sangat miskin. Tapi untunglah, meski miskin, si tokoh sangat cantik, dengan kuku yang jelas mendapat perawatan menicure dan pedicure, rambut di-blow, dan tentu saja maskara dan blush on. Okay, saya maafkan maskara dan blush on karena itu bagian dari make-up. Tapi kuku dan rambut yang indah? No!

10. Penyakit kronis.

Kanker, tumor, hingga transplantasi jantung! Berat sekali! Tapi tak ada satupun yang didukung informasi medis yang meyakinkan. Semua hanya bagian dari dramatisasi. Dan oh ya, semua tindakan medis mahal itu bukan soal besar sebab si keluarga kaya akan membereskan semua urusan finansial. Biasanya adegan penyakit kronis akan dikaitkan dengan paksaan untuk menikah, paksaan untuk tidak menikah, dan berbagai ancaman lainnya.

Telur atau ayam?

Klik di sini untuk pergi ke sumber gambar

Pertanyaan besar yang terus mengganggu saya adalah: tidak adakah cerita yang bagus? Tidak adakah penulis-penulis cerita dan skenario yang punya ide lebih original dan membumi? Ada, salah satunya sinetron Kiamat Sudah Dekat karya Deddy Mizwar. Tapi hey, itu tidak sebanyak sejumlah sinetron kurang bermutu lainnya. Dan hey, tidak mudah bagi penulis cerita dan skrip untuk bersikap idealis sebab sinetron dimaksudkan untuk menjadi produk komersil.

Lucunya, tidak ada pihak yang mau dan bisa dijadikan “kambing hitam” di sini. Penulis skrip akan tergantung pada penulis cerita. Penulis cerita akan tergantung pada rumah produksi. Rumah produksi akan tergantung pada produser. Produser akan meminta apa yang diinginkan masyarakat. Caranya: dengan melihat rating harian sinetron produksi mereka. Jadi apakah masyarakat yang salah? Karena menonton sinetron?

Apa sebenarnya masyarakat memang menyukai tontonan itu? Mungkin ya, mungkin tidak. Mungkin mereka nggak punya pilihan lain. Atau mungkin mereka memang membutuhkan sinetron yang penuh tragedi dan drama. Yang saya lihat dengan kasat mata, tetangga-tetangga saya selalu menyetel satu saluran TV di jam tertentu yang menayangkan sinetron-sinetron dengan jam tayang tinggi. Tidak cuma itu, warteg langganan dan warteg bukan langganan saya juga. Dan yang lebih mengejutkan, pangkalan ojek dekat rumah pun juga nggak pernah absen nonton sinteron. Ya! Bapak-bapak tukang ojek, tukang jualan, atau warga sekitar (semuanya lelaki) rajin juga nongkrong di pos ini, nonton sinetron.

Adakah yang bisa dilakukan? Bisakah ayam-ayam berkualitas tidak berhenti berusaha menelurkan telur yang lebih sehat?

—–

PS. Sebelum menulis postingan ini, saya mesti memaksakan diri untuk menjadi penonton (tidak) setia sinetron dan saya (mesti ngaku kalau) pernah terlibat menulis di salah satu judulnya.

5 thoughts on “10 Dosa Sinetron

  1. wulanadian says:

    – Amnesia
    – Kalo si cewek marah terus pergi, si cowok diam di tempat sambil menjulurkan tangan, “Fitri… Fitri… tunggu!”
    – Kalo ada cewek yg manipulatif dan pura2 baik, waktu dia meluk seseorang, wajahnya langsung berubah jahat, dan matanya memercing.🙂
    – Kalo ada berita mengagetkan, banyak yang pingsan.
    – Cowok yg kerja di kantor biasanya selalu bawa briefcase. (Jaman sekarang jarang orang bawa briefcase kan)
    – Cewek baik hati biasanya nggak punya karir bagus, tapi pelayan restoran, ato pembantu, ato jualan bakso.

  2. wulanadian says:

    Oh ada lagi yg lebih penting! Kalo ada karakter yg mati, setelah banyak episode kemudian, ternyata dia masih hidup dan kembali lagi…!!

  3. anisa windradini says:

    itu tandanya kalian berdua termasuk sering nonton sinetron kalo tau sedetil-detinya gitu… (aku aja gak tau sampe segitu)… mungkin dosaku gak sebanyak kalian hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s